Page 37 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 37
16 di komunitas itu lantas merespons dan ‘melawan’ bencana tersebut
dengan jalan seni. Dari aksi tersebut, mereka menyimpulkan bahwa
seni mestilah menjadi senjata untuk melawan sesuatu, dan problem
krusial untuk Riau yang tampak nyata adalah bencana kebakaran
hutan. Maka, di tahun 2010 itulah komunitas tersebut mengubah diri
menjadi Rumah Budaya Sikukeluang dengan konsentrasi kerja pada
problem lingkungan hidup.
Untuk dibaca bersama
Lain juga cerita dari Pasirputih. Dari beberapa kolektif era Reformasi
Awal periode akhir ini, Pasirputih tampak jelas dipengaruhi oleh
gerakan kolektivisme dari kota-kota ‘pusat’ seni. Pasirputih dimulai
dengan program akumassa dari Forum Lenteng, Jakarta. Namun, itu
tentu bukan satu-satunya. Perkaranya adalah bagaimana program
tersebut bisa bertemu dengan konteks yang sesuai sehingga ketika
program itu selesai, kegiatannya tetap berjalan dan bahkan bertambah
subur. Kesuburan ini, di dalam konteks Pasirputih, adalah bagaimana
mereka berhasil melokalitaskan diri mereka; menemukan tema dan
metode kerja tertentu yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal.
13
Pasirputih adalah salah satu lahan kering yang api kerja kolektifnya
berhasil dikobarkan.
Perlu dicatat pula bahwa TROTOARt yang muncul di Jakarta pada 2001
sesungguhnya berakar pada aktivitas yang sudah mereka lakukan satu
dekade sebelumnya yakni pada 1989. Ketika itu, sekumpulan seniman
lukis yang kerap bekerja di Jalan Pintu Besar Selatan, Kawasan Kota
Tua, Jakarta membentuk kelompok bernama Kesatuan Pelukis Pintu
Besar Selatan (KEPBES). Baru pada 17 Mei 2001 mereka mendirikan
Yayasan TROTOARt Semesta Raya, yang lebih kerap dikenal dengan
TROTOARt. Kolektif ini bermarkas di Penjaringan, Jakarta Utara
dan bekerja bersama masyarakat Penjaringan yang bisa dikatakan
sebagian besar berasal dari lapisan masyarakat kelas bawah. Mereka
juga aktif membangun komunikasi dan kerjasama dengan pelbagai
pihak di Jakarta mau pun di luar Jakarta. Salah satu hasilnya adalah
13 Lih. Muhammad Sibawaihi, “Cerita dari Pasirputih,” dalam buku ini (hlm. 207).
Pada Air-Tanah yang Sama, Musim Berbeda: Perihal Kemunculan Kolektif Seni dalam Pembahasan FIXER 2021

