Page 42 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 42
kemudian hari, katakanlah sepuluh tahun ke depan, mereka menjadi 21
orang-orang yang menghargai keberagaman. Jendela Ide adalah
sebuah upaya membuka ruang untuk menghargai keberagaman
tersebut. Selain itu juga Jendela Ide adalah sebuah upaya membuka
ruang komunikasi yang demokratis di antara anak-anak (mengingat
milieu yang diciptakan Orde Baru kala itu secara umum adalah ruang
yang jauh dari demokrasi).
16
Untuk dibaca bersama
Sanggar Anak Akar bermula dari rumah singgah untuk anak-anak di
Kampung Melayu Kecil dan Matraman, Jakarta. Konsentrasi Sanggar
Anak Akar pada pendidikan alternatif untuk anak jalanan bisa dilihat
dari dua latar belakang, yakni (1) ketimpangan sosial ekonomi era
Orde Baru yang membuat banyak orang tak beruntung mendapat
kesempatan pendidikan dan (2) kurikulum pendidikan di Indonesia
yang dianggap tidak ideal. Hal kedua ini tampak pada prinsip dasar
Sanggar Anak Akar, yakni setiap pribadi adalah guru dan juga murid
(sebuah diktum yang bisa dikenali sebagai diktum pendidikan sebagai
pembebasan, dengan tokoh-tokohnya seperti Paulo Freire dan Ivan
Illich, serta Ki Hadjar Dewantara).
Menarik melihat bahwa dua kolektif seni yang berusia paling tua
di dalam pembacaan FIXER 2021 berkonsentrasi pada anak-anak.
Barangkali, ini juga salah satu faktor yang membuat keduanya
bertahan begitu lama. Pada Sanggar Anak Akar, para alumninya
kini menjadi punggawa garda terdepan yang mengatur keseharian
Sanggar Akar. Sebut saja, dua di antaranya, Hairun Nisa dan Yuli
Setiawati. Keduanya mengenal kolektif ini sejak awal 2000-an dan
kini mengurusi pula kesehariannya. Sementara itu, beberapa alumni
yang lain menginisiasi ruang-ruang alternatif di tempat mereka
masing-masing dengan mengambil inspirasi dari Sanggar Anak
Akar, yang telah menjadi rumah mereka. Begitu pula dengan anak-
anak yang dahulunya berada di Jendela Ide. Beberapa dari mereka
menjadi penggerak di beragam komunitas dan inisiatif warga. Mereka
16 Disarikan dari wawancara dengan Marintan Sirait.
Berto Tukan

