Page 375 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 375

354  Di tengah berbagai situasi tersebut, muncul sebuah cita-cita
             untuk menciptakan sebuah gerakan bersama untuk membentuk
             sebuah ekosistem antarkolektif, sebuah lumbung sumber daya,
             yang memungkinkan terjadinya proses berbagi surplus di antara
             berbagai kolektif seni yang ada di Indonesia. Lumbung sumber
             daya ini merupakan sebentuk eksperimentasi atas sebuah sistem
             yang menyokong keberlangsungan praktik setiap kolektif seni yang
               Untuk dibaca bersama
             tergabung di dalamnya. Dalam ranah seni rupa kontemporer hal
             semacam ini dipahami sebagai  model pembangunan institusi sebagai
             karya seni (institutional-building as an art form). Di sisi lain, tawaran
             tersebut merupakan usaha yang terinspirasi dari kesadaran untuk
             meneruskan berbagai bentuk praktik berbagi daya yang jamak ditemui
             dalam berbagai bentuk kebudayaan di Indonesia, di mana  masyarakat
             dengan tradisi agraris bekerja bersama-sama untuk memenuhi dan
             mengelola lumbung—dengan beragam peran tanpa label tertentu—
             untuk bisa menghidupi dirinya serta ekosistem di sekitarnya. Jadi, bisa
             dikatakan bahwa konsep lumbung sumber daya ini bukanlah sebuah
             konsep yang berangkat dari ruang hampa; ia berangkat dari sebuah
             praktik yang sudah dijalankan dan selalu berkembang untuk mencapai
             ideal yang dicita-citakan. 


             Mekanisme dan konsep kerja lumbung sumber daya inilah yang hendak
             ditawarkan pada kolektif dan organisasi seni lainnya di Indonesia,
             sebagai sebuah kelanjutan yang bersifat praksis dari penelitian
             FIXER ini. Melalui lumbung inilah berbagai entitas yang tergabung di
             dalamnya dapat saling berbagi sumber daya yang dimiliki dan saling
             mendukung antara sesama kolektif seni di Indonesia demi mencapai
             kemandirian atas kerja-kerja kolektif di masa yang akan datang. Apakah
             model berbagi dan distribusi ini dapat menjadi sebuah solusi bagi
             keberlanjutan gagasan maupun ekonomi alternatif dari perkembangan
             kolektif atau organisasi seni di Indonesia? Tawaran dan eksperimentasi
             atas kemandirian semacam ini harus terus dicoba seiring dengan
             berkembangnya waktu, ketidakpastian atas masa depan, dan berbagai
             perubahan yang terus terjadi di dalam masyarakat.



             Penutup
   370   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380