Page 370 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 370

Pemandangan semacam itu tidak didapatkan pada survei FIXER satu
              dekade silam. Pada saat itu, sebagian besar inisiatif atau kolektif seni   349
              yang muncul lebih banyak memperjuangkan independensinya sebagai
              sebuah ekspresi kebebasan atas peristiwa Reformasi 1998, yang
              menandai berakhirnya rezim pemerintahan Suharto. Sikap independen
              tersebut kemudian menjadi pemandangan umum bagi gerakan kolektif
              seni yang tumbuh pada masa itu, saat pendiri dan anggota kolektif
               Untuk dibaca bersama
              seni mengusahakan ruang sendiri yang disewa, lantas mengubahnya
              menjadi tempat tinggal kolektif dan ruang seni alternatif yang dapat
              diakses oleh publik. Maka, dapat dipahami bahwa logika domestik
              seringkali muncul dalam pengelolaan organisasi. Hal ini  merupakan
              sebuah konsekuensi langsung dari pemisahan antara urusan domestik
              dan publik yang tidak terlalu memiliki pembatas jelas dalam kerja
              kolektif seni di Indonesia.

              Dewasa ini, kolektif seni semakin luwes dalam menyikapi pilihan
              ‘kemandirian.’ Berbeda dengan kolektif seni di masa lalu yang
              menempatkan otoritas mapan—baik pemerintah atau lapisan elit
              pada gelanggang kesenian—dalam posisi yang berseberangan
              sebagai sebuah pernyataan ‘independensi.’ Saat ini, kesempatan
              pendanaan bagi kerja-kerja kebudayaan yang diberikan oleh
              pemerintah maupun pihak swasta dalam satu dasawarsa terakhir
              dimanfaatkan oleh berbagai kolektif seni untuk mendukung kegiatan
              atau menambah fasilitas fisik atas ruang yang mereka miliki. Berbagai
              jembatan kerjasama antara kolektif seni dengan seniman dan aktivis
              kebudayaan senior juga makin terbuka, lewat program pameran,
              lokakarya, fasilitasi hingga forum. Kecenderungan ini dikarenakan ada
              beberapa kolektif yang menggali akar budaya di daerahnya sebagai
              sumber penciptaan, sehingga mereka perlu merapat ke ‘lapisan elit
              kesenian’ atau ‘tokoh budayawan lokal’ untuk menyambung narasi
              dari generasi sebelumnya. Kami melihat pergeseran tersebut sebagai
              sebuah konsekuensi dari kolektif seni yang mulai memikirkan arah
              kerja seni mereka sesuai dengan perubahan infrastruktur seni hari





                                                                   Tim Peneliti
   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375