Page 48 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 48

kolektif seni tidak muncul dari sebuah keadaan negatif? Bisakah ia
              muncul dari sebuah keadaan positif; sebuah keadaan tanpa masalah   27
              apa-apa, sebuah masa ketika segala bidang kehidupan ini berada pada
              keadaan yang paling paripurna?

              Kemunculan kolektif seni via negativa ini pun mengandaikan ada
              sebuah idealisasi tertentu di benak para pelaku seni. Karena ada
               Untuk dibaca bersama
              idealisasi tertentu yang pastinya tidak ada secara nyata di ruang-
              waktu mereka, maka kolektif seni adalah wadah perjuangan menuju
              kondisi ideal itu. Dari manakah idealisasi ini muncul? Pertama-tama
              tentunya ada referensi. Beberapa kolektif seni di daerah didirikan oleh
              mereka-mereka yang pernah mengalami milieu seni di kota-kota pusat
              seni (Jakarta, Bandung, Yogyakarta). Maka, idealisasi mereka adalah
              milieu kota-kota pusat seni. Kolektif seni mereka dirikan untuk mengisi
              kekosongan milieu seni tersebut. Perihal referensi ini membawa kita
              pada referensi atas seni modern dan kontemporer a la Barat. Beberapa
              kolektif, atas dasar inspirasi, punya program-program yang hampir
              serupa bentuknya satu sama lain (hanya berbeda di nama dan isinya).
              Namun, perihal idealisasi ini, seiring berjalannya waktu, terbukti
              disadari oleh kolektif seni. Kesadaran ini lantas mendorong mereka
              untuk mencoba menemukan cara ucap baru, metode kerja baru yang
              lebih sesuai dengan situasi kondisi di tempat mereka.


              Sampai di sini, kami tiba-tiba mencurigai pembacaan kami sendiri.
              Jangan-jangan karena kami berdiri pada sebuah situasi kolektif
              tertentu maka yang kami temukan adalah juga kolektif-kolektif yang
              hampir-hampir mirip dengan kami: Kolektif seni dengan idealisasi
              tertentu. Kami meneropong dan melihat apa-apa yang hanya bisa
              dilihat oleh mata kami yang dibantu teropong itu. Di luar itu, tak bisa
              atau belum kami lihat. Jangan-jangan ada ‘kolektif-kolektif seni’ lain
              dengan bentuk, cara dan gaya yang sama sekali berbeda dengan
              rekonstruksi kolektif di kepala kami. Kami terjebak pada ‘problema
              pengukuran.’ Kita hanya bisa mengukur sesuatu dengan memulai titik
              nol dari tempat kita berdiri, tidak bisa memulai titik nol dari sebuah
              tempat yang entah.

                                                                   Berto Tukan
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52   53