Page 44 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 44
Taring Padi, sebagaimana paparan Heidi, merupakan sebuah kolektif
yang sungguh menekankan seni kerakyatan. Secara sadar, mereka 23
menyatakan sebagai kelanjutan dari upaya Lembaga Kebudayaan
Rakyat (Lekra) untuk membentuk sebuah seni kerakyatan. Hal ini
lantaran, bagi Taring Padi, Reformasi 1998 telah menciptakan sebuah
demokrasi borjuis. Apakah memang cita-cita itu yang terus membuat
Taring Padi ada hingga kini terus ada? Menarik untuk menyimak
Untuk dibaca bersama
refleksi mereka yang dimuat juga di dalam buku ini. Di kota yang
19
sama, HONF dan KUNCI Study Forum & Collective, yang muncul
setahun setelah Reformasi 1998, tentu punya cerita yang berbeda.
Dengan menggambarkan tiga latar di atas bisa dilihatlah secara
umum bagaimana latar kolektif seni di Indonesia muncul. Ada
semacam semangat turun ke bawah dari para kolektif seni ini. Seni
dilihat sebagai sebuah wahana yang mampu memperbaiki keadaan
yang negatif tertentu di tengah masyarakat.
Keberagaman alasan di balik munculnya kolektif seni mulai mewarnai
kemunculan mereka pada era awal reformasi. ruangrupa, yang muncul
pada 1 April 2000 dan kini menjadi bagian dari Gudskul Ekosistem
(muncul pada 2018), mengetengahkan perihal medan sosial seni rupa
sebagai salah satu pendorong utama kemunculannya. Medan sosial
seni rupa Jakarta yang kala itu tidak terlalu memberi tempat bagi
seniman muda dengan karya-karya yang eksperimental membuat
ruangrupa ingin membuka dan menciptakan ruang bermain sendiri.
Mereka lantas menjadikan lingkungan urban Jakarta sebagai
konsentrasi kerja mereka.
Hal yang hampir serupa juga ditemukan pada Omuniuum (2007),
yang hendak membuka ruang atau menjadi wadah bagi musisi dan
seniman-seniman lokal di Bandung yang kurang mendapatkan tempat
(sebuah upaya yang terus mereka kembangkan hingga saat ini). Di
ibu kota Jawa Tengah, isu tentang kota pun menjadi konsentrasi
19 Lih. Ladija Triana Dewi, “Mengurai Ingatan: Memaknai Keberadaan Kolektif Taring Padi,” di dalam
buku ini, (hlm. 149)
Berto Tukan

