Page 45 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 45
24 Hysteria (2004), yang bercikal bakal pada aktivisme di sebuah kampus
di Semarang. Hysteria, yang dari anak kampus itu, melihat Semarang
dan sekitarnya sebagai tempat bermain mereka, identitas mereka,
dan mereka pun menggarap isu keurbanan dan masyarakat dengan
terus menyadari posisi mereka di kota itu yang berbeda dengan posisi
kolektif lain ataupun dunia seni yang berlaku di kota-kota besar. Adin,
yang setia di Hysteria sejak hanya sekadar mencetak zine hingga
Untuk dibaca bersama
berkelana dari biennale ke biennale itu, mengutarakannya di dalam
sebuah manifesto yang dapat dibaca dalam buku ini.
Kecenderungan kolektif yang muncul berdasarkan medium seni pun
makin menguat di era Reformasi Awal ini (sesuatu yang sebenarnya
juga sudah terjadi sebelumnya, pada HONF di era Orde Baru,
misalnya). Hal itu tampak pada Gardu House, yang kehadiran dan
kerjanya bisa diwakilkan dengan kalimat, “memasyarakatkan grafiti
dan menggrafitikan masyarakat,” serta Ruang MES 56, yang menjadi
wadah eksperimentasi fotografi—namun juga dari sana muncul begitu
banyak inisiatif dan ide-ide liar lainnya.
Yang menarik di era Reformasi Awal ini adalah kemunculan kolektif-
kolektif seni yang didorong oleh masalah spesifik daerah. Hal
itu jelas pada Tikar Pandan, Pasirputih, mau pun Rumah Budaya
Sikukeluang, serta JaF dan dua saudara dekatnya, TUDGAM dan
Sinau Art. Ketjilbergerak dan Kampung Halaman di Yogyakarta
barangkali muncul dengan semangat yang sedikit berbeda dalam hal
pemberdayaan masyarakat. Meski berbasis di Yogyakarta, aktivitas
keduanya terjadi di pelbagai tempat, yakni desa dan kota-kota
kecil, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Pada era ini juga muncul
kolektif seni yang motif kemunculannya mirip dengan motif yang
kuat pada kolektif seni era Orde Baru, yakni seni sebagai jawaban
akan problema masyarakat. Kolektif seni tersebut adalah Komunitas
Taboo (Bandung).
Pada Air-Tanah yang Sama, Musim Berbeda: Perihal Kemunculan Kolektif Seni dalam Pembahasan FIXER 2021

