Page 47 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 47

26  Lab, SkolMus, Lifepatch dan beberapa yang lain. Permasalahan
             spesifik isu pada daerah tertentu mengemuka pada Gubuak Kopi,
             Komunitas KAHE, Lakoat.Kujawas, katakerja, SimpaSio Institute,
             Forum Sudut Pandang, Komunitas Action dan beberapa yang lain.
             Perlu menjadi perhatian bahwa terkadang perkara medan sosial seni
             selalu juga berjalan berdampingan dengan permasalahan spesifik
             sebuah daerah, atau sebaliknya, permasalahan spesifik sebuah
               Untuk dibaca bersama
             daerah berjalan berkelindan dengan perkara medan sosial seni.

             Penutup
             Dari kemunculan kolektif seni di Indonesia dalam pembacaan ini,
             yang merentang di dalam kurun waktu yang begitu panjang (1980-
             2020 alias empat dasawarsa), bisa dikatakan bahwa semakin hari
             kesadaran akan penting dan efektifnya kerja kolektif di Indonesia
             mulai mengemuka dan semakin mengemuka dan terasa efektif dari
             hari ke hari. Hal ini tampak jelas pada jumlah dan ketersebarannya.
                                                                       21
             Efektivitas kerja kolektif ini pun muncul dari pergolakan yang cukup
             panjang, melewati siklus-siklus yang bisa jadi belum berhenti dan
             akan terus berlanjut dengan bentuk-bentuk baru di kemudian hari—
             yang saat ini belum kita tahu.


             Kolektif seni pada hemat kami muncul untuk menyelesaikan masalah
             tertentu. Artinya, kolektif seni muncul dari sebuah keadaan negatif.
             Dengan demikian, sesungguhnya fenomena kolektif seni tidak terlalu
             berbeda dengan fenomena kemunculan NGO; mereka seakan-akan
             muncul sebagai pemadam kebakaran ketika kebakaran terjadi.
             Berbedanya kolektif seni dengan NGO adalah bahwa sejauh ini kolektif
             seni justru semakin mengalami kesemarakannya, sedangkan NGO,
             setidaknya menurut kami, semakin mengalami kelesuannya. Jika
             demikian, pertanyaannya pada kolektif seni adalah bagaimana ia
             menjaga mekanisme dan sistemnya sendiri agar tidak mengalami
             kelesuan seperti yang dialami NGO? Ini adalah pekerjaan rumah kita
             bersama. Sementara itu, pertanyaan kedua adalah apakah bisa sebuah


             21  Lih. Ayos Purwoaji, “Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia
             2010-2021,”  dalam buku ini (hlm. 163).
             Pada Air-Tanah yang Sama, Musim Berbeda: Perihal Kemunculan Kolektif Seni dalam Pembahasan FIXER 2021
   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52