Page 43 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 43
22 menjadi jejaring dan membuka jejaring bagi Jendela Ide untuk terus
berkembang dan beraktivitas hingga kini.
Namun, mungkin faktor utama keberlangsungan mereka adalah
karena Sanggar dan Jendela Ide tidak digerakkan oleh ‘saya,’ ‘aku’ atau
‘kita,’ tetapi ‘mereka,’ sebagaimana yang direfleksikan Ibe Karyanto di
laman Facebooknya pada ulang tahun ke-26 Sanggar Anak Akar, yang
Untuk dibaca bersama
diberinya judul, “Karena Mereka, Sanggar Anak Akar Masih Ada”,
“Saat ini kami masih punya daya karena spirit para muda yang
menyebut diri alumninya Sanggar Anak Akar tak pernah lupa
pada induk yang pernah menyusuinya (alma mater). Saat ini kami
masih bisa bersuara karena ada bersama para pegiat pendidikan
anak yang tak juga pernah lelah bersuara. Karena mereka,
Sanggar Anak Akar masih ada. Pada mereka yang pernah menjadi
anak-anak bagian dari Sanggar Anak Akar, pada mereka yang
telah menjadi bagian dari sejarah pergerakan Sanggar Anak Akar
yang tidak semuanya kami ingat dan tercatat namanya dalam
buku abadi, hanya komitmen yang masih ada ini yang bisa kami
berikan sebagai tanda syukur dan terimakasih tak terhingga.” 17
Di Yogyakarta, Taring Padi, yang berdiri pada 1998, bisa dilihat di
dalam konteks efek langsung dari Reformasi 1998 itu sendiri. Dengan
sadar, Taring Padi menyatakan diri mereka sebagai sebuah seni
bertendens, dalam hal ini politik. Mereka adalah para pemuda yang
aktif memperjuangkan terwujudnya cita-cita Reformasi 1998. Mereka
tidak puas dengan itu. Taring Padi adalah upaya mengisi reformasi
yang tak sesuai dengan keinginan tersebut, sebagaimana yang
dilukiskan Heidi Arbuckle Gultom, “...Taring Padi menetapkan bahwa
tugas mereka adalah membangun kembali ‘budaya kerakyatan,’
dan mengadvokasi siasat front bersatu dalam rangka mendorong
perubahan demokratik yang berwatak populer di Indonesia.”
18
17 https://www.facebook.com/ibe.karyanto , diakses pada 15 Desember 2020.
18 Heidi Arbuckle Gultom, Taring Padi: Praktik Budaya Radikal Di Indonesia (Yogyakarta: Penerbit
Octopus, 2019), hlm. 38.
Pada Air-Tanah yang Sama, Musim Berbeda: Perihal Kemunculan Kolektif Seni dalam Pembahasan FIXER 2021

