Page 49 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 49
28 Dengan kesadaran pada kemungkinan jebakan ‘problema pengukuran’
tersebut, izinkan kami menutup bagian ini dengan simpulan kecil.
Melihat fenomena kemunculan kolektif seni dan usia serta siklus
yang mereka lewati, kami punya kesimpulan kecil bahwa kolektif
seni yang terus bertahan adalah kolektif seni yang terus berubah-
ubah bak bunglon. Atau, kolektif seni yang terus menantang dirinya
untuk berubah, menantang dirinya pada problem-problem yang lebih
Untuk dibaca bersama
besar. Maka, barangkali, kolektif seni mestinya terus menjerumuskan
dirinya pada situasi berbahaya dan tidak pernah mau terlalu lama
berada pada posisi status quo. Karena pada intinya seni adalah sebuah
eksperimen sosial. Dan, kolektif seni adalah sebuah eksperimen sosial
akan hidup bersama; kolektif seni adalah laboratorium kehidupan
sosial. Karena ia adalah laboratorium, maka ia punya kemewahan
‘diizinkan untuk salah,’ (permission to fail). Privilese ini mesti disikapi
kolektif seni dengan bijak.
‘Panas setahun dihapus hujan sehari,’ demikian pepatah nenek
moyang agraris kita yang dari merekalah semangat lumbung berasal.
Bagi sebuah laboratorium, ‘seribu kesalahan eksperimen dihapus
oleh satu kebetulan yang mendatangkan satu keberhasilan.’ Begitu
pulalah laboratorium sosial; seribu privilese kegagalan kolektif seni
‘termaafkan’ karena ada kondisi ideal yang dibayangkan; sebuah
keberhasilan kecil yang menyumbang pada perubahan sosial demi
kehidupan bersama yang lebih baik.
Jakarta, 2020-2021
Pada Air-Tanah yang Sama, Musim Berbeda: Perihal Kemunculan Kolektif Seni dalam Pembahasan FIXER 2021

