Page 81 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 81
60 elahiran Tikar Pandan sebagai sebuah kolektif tidak
terlepas dari dinamika konflik politik yang ada di Aceh.
Pada waktu itu, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan
K Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih berperang.
Persoalan dipicu oleh ketidakadilan ekonomi dan juga sejarah
Aceh yang dianggap sebagai wilayah berdaulat. Pasca-Orde Baru,
keadaan tidak kunjung membaik.
Untuk dibaca bersama
Meski turut mengalami dinamika sosial yang sama dengan yang
menjadi alasan lahirnya Komunitas Tikar Pandan, saya bisa dibilang
orang yang belakangan bergabung. Di tulisan ini, saya hendak berbagi
tentang geliat komunitas yang akrab kami sebut Tikar Pandan dan
kisah-kisah lain yang berkaitan dengannya.
Saya menemui Muhammad Yulfan, Azhari Aiyub dan Fozan Santa.
Mereka adalah tiga dari beberapa pendiri Tikar Pandan. Tentu, mereka
lebih paham bagaimana detail sejarahnya. Hari itu kebetulan juga
kita sedang ada rapat membahas arah keberlangsungan komunitas.
Usai rapat, kami melanjutkan minum kopi dan bertukar-pikiran
sebagaimana lazimnya.
Meski sudah mendengar sejarahnya dari yang lain, saya merasa tidak
puas hati sehingga meminta mereka bercerita lagi. Sambil menyesap
kopi dan membakar rokok, Yulfan kembali bercerita. Saya hidupkan
tombol rekam di hape biar tidak hilang poin-poinnya.
***
“Jadi, dulu komunitas kita ini lahir lantaran ada dorongan dari kalangan
pelajar. Sebab waktu itu sudah ada gerakan mahasiswa bernama KARMA,
SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat), dan lainnya,” kata Yulfan.
“Kita berpikir mengapa kok dari pelajar tidak ada.”
Seiring berjalannya waktu, keadaan semakin tidak kondusif,
militerisme dan kekerasan mewarnai hari-hari. Anak-anak muda yang
Dari Tikar Pandan untuk FIXER

