Page 83 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 83

62  tergerak oleh isu tersebut kemudian ikut merespons. Aksi berlanjut
             dengan diskusi-diskusi. “Pas tamat SMA, tidak mungkin kami memakai
             platform sekolah lagi, sebab sudah bukan siswa,” demikian Yulfan
             menambahkan. “Lantaran itu kita akhirnya pikirkan ruang lain. Waktu
             itu kita pakai tempat di satu sudut di Taman Budaya Banda Aceh. Kita
             bikin diskusi tiap Sabtu sore. Dari situ kita punya pikiran sendiri yang
             beda. Akhirnya, pada 2002, kita bikin Komunitas Tikar Pandan.”
               Untuk dibaca bersama
             Tentang ini saya juga ingat waktu mengobrol dengan Azhari Aiyub
             beberapa waktu lalu. Memang tren kolektif itu baru muncul setelah
             Orde Baru lengser. Azhari adalah satu di antara sekian orang yang
             berperan membentuk konsep dan arah Komunitas Tikar Pandan.
             Mereka membuat jurnal kebudayaan bernama Titik Tolak. Saya masih
             ingat, salah satu artikel dalam jurnal itu adalah wawancara dengan
             Pramoedya Ananta Toer, yang ketika itu minta maaf pada Aceh. “Sejak
             dulu mereka sudah mengirim pembunuh ke Aceh,” kata Pram dalam
             wawancara tersebut.


             Selain menerbitkan jurnal, Tikar Pandan juga mendirikan toko buku
             yang diberi nama Dokarim. Saya terkesan dengan toko buku itu
             lantaran mereka menjual buku-buku yang aneh, tapi bagus sekali.
             Misalnya, di sana saya pertama kali melihat karya Arundhati Roy,
             Gabriel García Márquez, Leo Tolstoy dan John Roosa. Kemudian ada
             juga buku-buku yang judulnya membuat jantung orang-orang di sini
             berdebar-debar ketika melihat, misalnya, Bertuhan Tanpa Agama.


             Oleh orang luar, Tikar Pandan memang sempat dipandang sebagai
             organisasi aneh. Mereka pernah dituduh komunis, liberal, dan syiah
             juga. Padahal tidaklah mungkin komunis dan liberal bisa dalam satu
             wadah yang sama. Saya dan teman-teman muda lain justru belajar
             banyak sekali. Ada banyak peneliti yang juga pernah datang. James
             Siegel, misalnya, dan masih banyak yang lainnya. Ketika ada peneliti
             datang mewawancarai soal kolektif ini, saya selalu bilang, Tikar
             Pandan itu seumpama universitas, tempat setiap orang bisa belajar.



             Dari Tikar Pandan untuk FIXER
   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88