Page 85 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 85

64  “Jadi, seni, terutama teater, waktu itu sebagai wadah untuk
             menyuarakan apa yang terjadi di masyarakat bawah. Ada kekerasan,
             pemerkosaan, dan lainnya,” kata Yulfan. Pernah sekali waktu ia harus
             menjelaskan dan berkali-kali mencari cara agar lepas dari kelumit
             masalah, seperti ketika ada serdadu yang melihat ilustrasi poster
             teater yang menampilkan gambar orang duduk di kursi dan mengalami
             penyiksaan. “Ini maksudnya apa? Siapa menyiksa siapa ini, huh?”
               Untuk dibaca bersama
             serdadu waktu itu bertanya.

             Untuk menyiasati kendala dan tantangan atas sensor, Tikar Pandan
             membuat dua versi naskah untuk satu pementasan. Naskah yang
             mereka serahkan ke pihak serdadu sebagai bahan laporan adalah
             naskah yang tidak berisi kritik, berbeda dengan naskah yang mereka
             pentaskan dalam teater. Kadang-kadang, ada juga intel yang
             berkeliaran untuk mencari tahu kesan yang didapat oleh penonton
             usai menonton teater.


             Kegiatan literasi juga diteruskan dengan pendirian sekolah yang bagus
             sekali, yaitu Dokarim. Nama sekolah itu diambil dari nama salah
             seorang penyair Aceh pada masa kolonialisme Belanda. Sekolah itu
             berjasa melahirkan penulis muda yang menulis di koran-koran dan
             media massa lainnya. Saya belajar banyak tentang menulis di Dokarim.
             Azhari Aiyub berjasa mengajarkan kami tentang penulisan kreatif dan
             membuka ruang untuk diskusi-diskusi kritis.

             Selama ini, memang, kalau dilihat-lihat lagi, Tikar Pandan
             memanfaatkan seni sebagai medium untuk menyentuh persoalan
             sosial. Pernah sekali waktu anak-anak simpatisan Gerakan Aceh
             Merdeka dan anak-anak TNI dikumpulkan untuk bermain teater
             bersama. Dari kegiatan itu, panitia penyelenggara dari Tikar Pandan
             baru tahu bahwa ternyata dendam antara TNI dan GAM diwariskan juga
             ke anak-anak. Anak GAM bernyanyi Prang Sabi, sementara anak TNI
             bernyanyi Gugur Pahlawan, tapi teater mencoba meleburkan mereka.





             Dari Tikar Pandan untuk FIXER
   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90