Page 87 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 87
66 Itu acara yang bagus sekali. Agus Nur Amal PMTOH memainkannya,
dan hikayatnya dirangkai bersama Azhari, Reza Idria, dan kawan-
kawan lain. Mereka menyebutnya juru puliek pike (tukang pikir).
Pernah ada seorang ibu yang pendiam karena trauma, tiba-tiba ia bisa
bicara ke orang ramai saat masuk ke dalam TV besar yang dibikin dari
papan itu. Itulah kenapa saya bilang bagus sekali. Lucu juga lantaran
ada humor-humornya sehingga orang-orang kampung suka.
Untuk dibaca bersama
Usai Tsunami dan damai dari perang pada 2005, memang ada bencana-
bencana lain seperti gempa di Gayo, banjir bandang di Tangse, dan
juga bunyi sirine peringatan yang membuat orang lari karena mengira
tsunami datang lagi, padahal tidak ada. Sirinenya yang error. Tikar
Pandan masih menggunakan pendekatan budaya, meski mediumnya
sudah sedikit berbeda, yaitu komik berisi cerita mitigasi bencana yang
digambar oleh pelajar dan digali dari pengalaman mereka.
Sekarang memang performa Tikar Pandan agak lamban. Salah satu
persoalan utamanya adalah strategi pendanaan lembaga. Sampai saat
ini Tikar Pandan belum berhasil mewujudkan suatu sistem pendanaan
yang mandiri. Sebelumnya, sumber pendanaan datang dari donor dan
sebuah unit bisnis, yaitu toko buku Dokarim. Namun, itu semua tidak
berhasil mewujudkan fundraising. Sebab, toko buku itu dinilai tidak
berhasil memenuhi selera pasar yang lebih menyukai buku-buku pop.
Selain itu, Tikar Pandan sebagai ruang perlawanan makin mengecil,
makin kurang disukai, semakin kehilangan strategi, mandeg,
stagnan, karena musuh kita sudah jadi penguasa, dan rekan-rekan
seperjuangan dulu ada yang jadi seniman dan budayawan yang
mempertahankan status quo. Kalau dulu lawan kami cuma militerisme,
sekarang jadi banyak.
Ada narasi dominan bahwa Aceh sudah demokratis, menjunjung
tinggi HAM, rehabilitasi dan rekonsiliasi pun dianggap sudah berhasil
sehingga kemudian menjadi model bagi wilayah atau bahkan negara
Dari Tikar Pandan untuk FIXER

