Page 88 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 88
lain yang sedang mengalami konflik. Itu semua berkebalikan dari
keadaan sebelumnya ketika Aceh terlihat jelas tidak demokratis, 67
dengan adanya pelanggaran HAM di mana-mana, kekerasan lumrah
terjadi. Dan, keadaan yang sekarang itu sebenarnya adalah citra yang
dibangun oleh elit berkuasa.
Sebenarnya, kalau kita lihat lagi, di akar rumput masih bermunculan
Untuk dibaca bersama
masalah baru. Persoalannya masih soal HAM, penyelesaian kekerasan
masa lalu, dan masalah tambang. Dari semuanya itu, cuma aktornya
saja yang berganti. Persoalan demokrasi masih menjadi isu di Aceh.
Hegemoni dogmatik yang ada sekarang juga menjadi masalah baru.
Di ruang publik kejumudan membatasi kebebasan berpendapat. Dulu,
orang membicarakan HAM sudah dianggap capaian luar biasa; sekarang,
HAM dilihat sebagai produk kafir, liberal, corong antek asing, dll.
Yang juga penting dilihat adalah persoalan konektivitas dengan
generasi baru seiring dengan dinamika zaman yang semakin menuju
arah digital. Citraan Tikar Pandan dipandang terlalu serius dan
kurang up to date untuk generasi milenial. Selain itu, Tikar Pandan
tidak berhasil mengelola sumber daya manusia yang pernah terlibat
dalam proses belajar bersama untuk membentuk masyarakat kultural
sehingga sumber-sumber daya manusia tersebut bergerak sendiri
secara sporadis.
Tikar Pandan memang sudah harus mengubah pola, dan kami
sedang mencari bentuk baru, serta memikirkan usaha untuk mandiri.
Menemukan sistem yang dapat memberi dana berkelanjutan ini juga
tantangan, sebab kami belum punya pengalaman berbisnis. Strategi
lain adalah mencoba memaksimalkan potensi orang-orang Tikar
Pandan untuk memperkaya resource baik dari waktu maupun energi
dan lainnya. Selain itu, kami juga mencoba memetakan kembali
jejaring dengan kolektif lain yang bergerak dengan isu yang sama
sehingga dapat saling menguatkan; juga individu-individu tertentu
seperti peneliti luar yang masih concerned dengan isu-isu di Aceh.
Putra Hidayatullah

