Page 110 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 110
Apabila membaca program kolektif sebagai karya, maka dampak dari
keterhubungan dengan institusi internasional adalah penekanan 89
pada dialog budaya antarnegara dan komposisi representasi negara
pada jajaran seniman yang terlibat pada program-program tersebut.
Sekalipun tiap-tiap program pendukungan ini memiliki agenda
politiknya masing-masing—dari aspek internasionalisme, narasi
pasca-kolonial, aktivisme, serta definisi komunitas yang berbeda-beda
Untuk dibaca bersama
seperti ‘non-profit organization,’ ‘creative hub’ sampai ‘cultural/social
entrepreneurship’—kebanyakan kolektif yang disebutkan di atas telah
memiliki praktik mandiri dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum
datangnya program pendukungan tersebut. Pengalaman tersebut
membuat mereka menjadi cukup kuat dan lihai dalam melakukan
negosiasi artistik yang tetap mengakar pada identitas kolektifnya. Hal
ini bisa kita lihat pada buku Seni Membongkar Tirani oleh Taring Padi
(2011), program Sekolah Salah Didik Uji Coba 1 (2016-2019) oleh KUNCI
Study Forum & Collective, proyek seni ruang publik Tengok Bustaman
II (Bok Cinta) oleh Hysteria, hingga penerbitan komik SADAR DINI:
Mitigasi Bencana Untuk Remaja oleh Tikar Pandan (2015).
Keterkaitan dukungan perusahaan tembakau dengan praktik
Gambar 7. Suasana diskusi di area unit usaha makanan Kedubes Bekasi dalam artistik kolektif di Indonesia bukanlah hal baru dalam dasawarsa
acara Hutbek dalam rangka ulang tahun kota Bekasi yang ke-24. ini, mengingat kegiatan-kegiatan kesenian bersamaan dengan
Lokasi: Bekasi, Jawa Barat (2021).
Sumber: Kedubes Bekasi/Ageng Adhi Prasetyo. seperti festival teater, film dan musik telah lama bekerja dengan
pihak-pihak swasta tersebut. Seni pemrograman kegiatan seni yang
Negosiasi Artistik Kolektif dengan Pihak Pendana mengumpulkan orang banyak dilihat sebagai titik suntik yang strategis
Institusi internasional seperti Japan Foundation (Asia Center), untuk pemasaran produk mereka. Negosiasi artistik yang kemudian
Ford Foundation, Stichting Doen, Hivos, British Council, Institut dicoba oleh kolektif-kolektif yang bekerjasama dengan perusahaan
Français d’Indonésie dan Goethe Institut pun turut mempunyai tembakau lebih kepada siasat pengkuantitasan khalayak dan siasat
peran bagi kolektif-kolektif Indonesia yang terlibat dalam program rupa dalam peletakan item-item pemasaran, karena umumnya konten
pendukungannya. Beberapa kolektif ini di antaranya adalah Gudskul merupakan wewenang penuh dari kolektif tersebut, yang dipercayakan
Ekosistem, Kampung Halaman (Yogyakarta, 2006), Hysteria, KUNCI oleh perusahaan.
Study Forum & Collective (Yogyakarta, 1999), JaF, Lifepatch, Taring
Padi, Waft Lab, Tikar Pandan (Banda Aceh, 2002), Forum Lenteng Siasat-siasat itulah yang kemudian menjadikan hubungan kolektif
(Jakarta, 2003) dan Rumah Sanur (Denpasar, 2015). seni dengan perusahaan tembakau menjadi simbiosis mutualisme,
Gesyada Siregar

