Page 10 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 10

menandai sebuah pergeseran praktik artistik dari aktivisme ke   ix
              kolektivisme. Salah satu dampak dari hal tersebut adalah bergesernya
              posisi publik dalam kerja kesenimanan. Jika para seniman-aktivis pada
              1980-an masih “menampilkan suara individu seniman” dan melihat
              ruang pamer sebagai “terminal bagi petualangan dan pencarian,”
              maka corak kolektif seni pada 2000-an berusaha “menggaungkan
              pergulatan identifikasi perihal kewargaan” dan menggunakan
               Untuk dibaca bersama
              ruang publik sebagai “medan, sasaran, pelibatan, kemenangan, dan
              kekalahannya.” Usaha untuk mengidentifikasi pergeseran praktik
              artistik ini sangat mungkin dikembangkan di waktu-waktu mendatang,
              melihat begitu beragamnya praktik kolektif seni di Indonesia saat ini,
              yang bahkan melebur ke dalam keseharian sehingga menjadikannya
              sulit ditakar dengan batasan-batasan konvensional.


              Meleburnya praktik artistik kolektif dengan praktik sosial
              kemasyarakatan kemudian juga menjadi titik berangkat yang krusial
              bagi penelitian survei ini: Adakah definisi atas “kolektif seni” yang
              betul-betul presisi? Bagaimana membedakan praktik kolektif seni
              dengan sekelompok remaja karang taruna? Bagaimana mengukur
              praktik artistik kolektif seni yang anggotanya bukanlah seniman?


              Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebetulnya merefleksikan keragaman
              bentuk, prinsip dan praktik dari berbagai kolektif seni yang tumbuh
              di Indonesia saat ini. Sehingga, definisi yang dibuat pun tidak hanya
              dibatasi pada bentuk institusional—karena bahkan ada kolektif seni
              yang tidak menyebut diri mereka “kolektif seni”—dan sewajarnya
              usaha pendefinisian ini lebih mengacu pada prinsip kolektivitas yang
              tampak. Dengan begitu, definisi atas kolektif seni di Indonesia tidak
              bersifat membatasi, atau bahkan mengecualikan, dan memungkinkan
              untuk terus dikembangkan mengikuti pergeseran praktik yang muncul
              di masa depan.

              Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebetulnya merefleksikan keragaman
              bentuk, prinsip dan praktik dari berbagai kolektif seni yang tumbuh
              di Indonesia saat ini. Sehingga, definisi yang dibuat pun tidak hanya

                                                                   Tim Peneliti
   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14   15