Page 9 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 9
viii kehidupan bangsa Indonesia, yaitu spiritualisme, rasa kemanusiaan
dan kolektivisme.
4
Sejarah perkembangan seni rupa modern di Indonesia sendiri
sesungguhnya tidak pernah lepas dari semangat berkumpul dan
berkolektif sepanjang waktu. Mulai dari terbentuknya Seniman
Indonesia Muda (SIM) pada 1946; Lembaga Seniman Indonesia
Untuk dibaca bersama
Tionghoa (Yin Hua Meishu Xiehui) pada 1949 ; Lembaga Kebudayaan
5
Rakyat (Lekra) pada 1950; Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim
Indonesia (Lesbumi) pada 1954 ; Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia
6
(GSRBI) pada 1974; Kelompok Decenta pada 1975; Kelompok
Kepribadian Apa (PIPA) pada 1977; Jaringan Kerja Kebudayaan (JAKER)
pada 1989; hingga pada gelombang kemunculan kelompok seniman
era 90-an, antara lain Kelompok Seni Rupa Jendela (1993), Apotik
Komik (1997), Taring Padi (1998), KUNCI Study Forum & Collective
(1999), HONF (1999) dan Tanahindie (1999). Selain yang disebutkan,
pada sepanjang masa tersebut juga muncul sanggar-sanggar yang
mengakomodir kebutuhan ruang bagi para seniman untuk berkumpul,
berproses dan berkarya. Beberapa di antaranya adalah Sanggar Jiwa
Mukti (1948), Sanggar Seniman Kartono Yudhokusumo (1952), Sanggar
Bambu (1959), Sanggar Bumi Tarung (1961), Akademi Seni Rupa
Surabaya atau AKSERA (1967), hingga Sanggar Dewata (1970).
Fakta tersebut sesungguhnya dapat menjadi pijakan bahwa kontribusi
kolektif, kelompok seniman atau sanggar memiliki riwayat panjang
dalam perkembangan seni rupa modern di Indonesia. Kecenderungan
untuk berkumpul tersebut kemudian berlanjut pada 2000-an hingga
saat ini. Bahkan, belakangan menjadi dorongan yang kembali menguat
di berbagai daerah. Dalam artikelnya di buku ini, Hendro Wiyanto—
menyitir pandangan Ugeng T. Moetidjo—mencatat bahwa kemunculan
berbagai kelompok seniman dalam dua puluh tahun terakhir telah
4 “Polemik Kebudayaan,” ed. Achdiat K. Mihardja (Jakarta: Balai Pustaka, 1948); Versi digital dapat
diakses melalui http://archive.ivaa-online.org/khazanahs/detail/3749.
5 Brigitta Isabella, Yerry Wirawan, “Praktik Seni Rupa Seniman Tionghoa Indonesia 1955-1965,” dalam
Hibah Penulisan Seni Visual IVAA (2015).
6 Choirotun Chisaan, Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan (Yogyakarta: LKiS, 2008).
Sekapur Sirih

