Page 152 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 152

Dua ilustrasi di atas menunjukkan hadirnya dua perspektif yang bisa
              digunakan dalam memandang praktik aktivisme/kolektivisme yang   131
              tumbuh di berbagai kalangan seniman muda belakangan ini. Dalam
              “perspektif warga,” aktivisme dan kolektivisme bukanlah suatu
              seni, melainkan lebih sebagai ekspresi dari nilai-nilai sosial yang
              mereka hidupi. Bagi “perspektif seniman,” kolektivisme adalah upaya
              “seni” untuk mengkreasikan kembali suatu kohesi sosial—betapa
               Untuk dibaca bersama
              pun tipisnya—dalam ruang khalayak seperti yang ditunjukkan oleh
              berbagai praktik di dalam kedua buku itu. Morika Tetelepta, yang
              menginisiasi #Ambonartwalk bagi sejumlah kaum muda pasca-konflik
              agama yang sangat keras di Ambon (1999), menunjukkan suatu upaya
              untuk memberi isi pada “kekosongan pemulihan manusia lewat ruang-
              ruang perjumpaan.”  Pada ruang khalayak itulah agaknya aktivisme
                               39
              dan kolektivisme, seni dan bukan seni ikut melebur.



              Jakarta, 2021
































              39  Ibid, Morika Tetelepta, “#AMBONARTWALK: Dinding Kota Sebagai Rute dan Ruang Perjumpaan,”
              hlm. 74.
                                                                 Hendro Wiyanto
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157