Page 149 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 149
128 Seni rupa aktivis, per definisi adalah seni rupa yang ingin
membebaskan diri dari pendekatan isme-isme di dalam seni
rupa. Sebaliknya, kolektivisme 2000-an—dan sesudahnya—justru
tidak mengandaikan adanya rasa bersalah atas “isme” seni mana
pun. Aktivisme dengan sendirinya menghubungkan kita dengan
kecenderungan kolektivisme ketika gambaran mengenai sosok
kesenimanan bukanlah pertama-tama tampak sebagai aktivis,
itu. Subyek aktivis, misalnya, berupaya membebaskan diri dari ma
melainkan sebagai bagian dari khalayak atau subjek kolektif. Subjek
aktivis—melalui cara memutus jembatan penghubung dengan “objek
sebagai sarana reflektif”—cenderung dirundung oleh beban tertentu
Untuk dibaca bersa
sejarah seni. Sebaliknya, subjek kolektif terbebas dari beban semacam
tatapan mata murni sang penyair, seperti yang bisa kita simak dari
kutipan puisi di atas. Subjek kolektif sebaliknya tidak menganggap
bahwa suatu moda representasi lebih penting ketimbang objek yang
direpresentasikannya. Subjek kolektif menemukan “seni” pada ruang
khalayak, di tengah hiruk-pikuk kota, seperti tersarankan oleh teks
35
seorang seniman anonim pada pameran ruru 2010.
Dalam hal ini, aktivisme/ kolektivisme bukanlah gaya, pola atau
keseragaman. Mereka, misalnya, tidak merancang suatu platform
global untuk meraih penghargaan sekelas Nobel. Sebab, yang paling
relevan justru adalah “keberagaman proyek di seluruh dunia yang
tidak diinisiasi oleh negara, korporasi, lembaga perbankan, tetapi
oleh masyarakat itu sendiri. (…) Gambaran mengenai dunia yang
satu (uni-global), bentuk tunggal (uni-form), manusia yang seragam
(homo-geneous) tak lain adalah dakuan-dakuan modern/kolonial...
(…) Masyarakat yang mengelola diri mereka sendiri justru ingin
merenggutkan diri dari fiksi-fiksi modernitas dan logika kolonialitas.” 36
35 Tatapan murni adalah penemuan sejarah yang terkait dengan kemunculan ranah produksi artistik yang
otonom. Ranah ini memiliki kemampuan untuk memaksakan norma-normanya sendiri pada produksi dan
konsumsi produk-produknya. Tatapan murni mengutamakan moda representasi atas objek representasi,
secara kategoris menuntut perhatian pada bentuk, seperti yang disyaratkan oleh perkembangan seni
sebelumnya. Tatapan murni mengimplikasikan suatu patahan dengan sikap umum atau sehari-hari
terhadap dunia, yang melalui syarat-syaratnya merupakan sebuah pemisahan atau separasi sosial.
Lih. Pierre Bourdieu, “Distinction & the Aristocracy of Culture”, dalam Cultural Theory and Popular
Culture, ed. Storey (Athens: The University of Georgia Press, 1998), hlm. 433, 434.
36 Walter D. Mignolo, “Coloniality is Far from Over, and so must be Decoloniality,” dalam Power & Other Things:
Indonesia & Art 1835-Now, Europalia Arts Festival Indonesia (Ghent: Snoeck Publishers, 2017), hlm. 27.
Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme

