Page 147 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 147
126 Proses-proses identifikasi untuk meluputkan gagasan seniman
dari berbagai bentuk “kekerasan” identitas dalam karyanya sendiri
misalnya bisa kita jumpai pada sosok “samsudin,” tokoh (dan bukan
tokoh) dalam komik sangat lucu, “Samsudin dan Kereta Api” (2004)
karya Narpati Awangga (oomleo). oomleo adalah seniman yang
tertarik dengan idiom-idiom dan gambar sekuens di dalam komik.
Ia menggambar komik mini berukuran 5 x 3,5 cm dengan perangkat
Untuk dibaca bersama
komputer sehingga menghasilkan gambar kartun yang khas. Sekuens
gambarnya seperti serangkaian stop motion yang seluruh narasinya
merepresentasikan ketidakmungkinan kita memahami “samsudin.”
oomleo antara lain menulis begini:
“…samsudin berlari kencang karena takut pada PKI. PKI juga takut
ketemu samsudin, takut nggak kenal sama samsudin.…banyak yang
menyangka bahwa samsudin adalah hewan ternak. saat itu belum
ada listrik, tetapi kabel polytron sudah ada…samsudin tidak menyukai
indonesia raya dalam versi dangdut. samsudin memiliki 3 buah gitar
listrik, tetapi di rumah samsudin belum ada listrik…samsudin pernah
mencoba mengumpulkan 30 ahli santet tanah air untuk menyantet
dan menyiksa bob marley dari jauh, tapi samsudin tidak tega untuk
melakukannya karena bob marley adalah penyanyi reggae. Kemudian
semua ahli santet tersebut saling menyantet satu sama lain…”
34
dan seterusnya. Pada komik itu, “samsudin” adalah pusat gambar,
yang bersama dengan rel kereta api dan lokomotif yang “bergerak”
melaju ke depan melahirkan beragam kisah yang tidak terhubung
satu sama lain. Komik oomleo mengidentifikasi keruwetan masalah
di sekitar “samsudin,” yang nyaris mustahil untuk digambarkannya
sendiri. “Identitas” “samsudin” menjadi sangat kabur dan
kehadirannya sendiri tidak penting—setara atau sama halnya dengan
lokomotif dan rel kereta api yang selalu ada bersamanya. Identitas
“samsudin” justru terbentuk dari multiplikasi dari yang non-samsudin,
yakni masalah-masalah di sekitar “samsudin” sendiri.
th
34 Katalog pameran ruangrupa’s 10 anniversary, Decompression #10: Expanding the Space and Public,
hlm. 45.
Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme

