Page 150 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 150
Dua Perspektif
Pada 2018 lalu, terbit dua buku yang menurut saya penting untuk 129
lebih memahami kecenderungan praktik aktivisme—dan kemudian
kolektivisme—yang secara ringkas telah disinggung di atas. Buku
pertama adalah Dampak Seni di Masyarakat (Jakarta: Koalisi Seni
Indonesia, 2018). Aktivisme dan kolektivisme para seniman di dunia
seni telah menunjukkan dampaknya berupa pelbagai prakarsa
Untuk dibaca bersama
melalui kerjasama dengan berbagai komunitas dan berbagi inspirasi
dengan kelompok warga di berbagai tempat. Keduanya bertumpu
pada bentuk-bentuk kreativitas warga melalui berbagai siasat dalam
mengolah sumber, muatan dan persoalan sosial budaya setempat.
Annayu Maharani menyebutnya sebagai “gerak kebudayaan” untuk
tabungan masa depan Indonesia multikultural yang “menghormati
perbedaan, menjunjung ekspresi budaya, bahagia dan mampu
menghadapi persoalan bangsanya sendiri serta menjawab tantangan
zaman dengan cerdas dan bijak.” Sebutlah aktivisme semacam itu
37
sebagai kreativitas tanpa nama.
Berbagai bentuk kolektivisme ditunjukkan oleh buku kedua, Unjuk
Rasa: Aktivisme-Seni-Performativitas (Jakarta: Yayasan Kelola, 2018).
Bentuk-bentuk aktivisme-kolektivisme teater, musik, sastra, sinema,
seni rupa digelar di ruang-ruang khalayak sebagai festival, ruang
perjumpaan dan ekspresi komunal.
37 Annayu Maharani, “Investasi Kebudayaan untuk Masa Depan,” dalam Dampak Seni di Masyarakat
(Jakarta: Koalisi Seni Indonesia), hlm. 11.
Hendro Wiyanto

