Page 198 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 198

dan dibaca ulang melalui metode pameran arsip yang mereka adakan
              setahun sekali. Dana produksi untuk membuat pameran tersebut    177
              dikumpulkan dari donasi warga atau hasil usaha mandiri yang
              dikerjakan oleh anggota kolektif. Pembuat dan pengunjung pameran
              arsip tersebut adalah warga Kalisat sendiri, sehingga terasa intim,
              hangat, dan menjadi medium yang puitik untuk mengintegrasikan,
              meneruskan, merombak atau membentuk ulang ingatan bersama di
               Untuk dibaca bersama
              antara warga Kalisat, menjembatani masa lalu dan masa kini dalam
              konteks yang mereka sepakati sendiri.


              Sementara itu, kolektif Ketjilbergerak berkembang dari sebuah zine
              subkultur yang diinisiasi oleh Greg Sindana dan Invani Lela Herliana
              pada 2006. Namun, seiring waktu, aktivitas kreatif mereka kemudian
              berkembang menjadi sebuah kolektif seni yang kerap terlibat dalam
              pemberdayaan anak-anak muda di perkampungan dan perdesaan di
              sekitar Yogyakarta. Proyek-proyek seni yang dijalankan Ketjilbergerak
              selalu menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendidikan, seni dan
              partisipasi warga. Sejak 2018, Ketjilbergerak mulai mengadakan
              kegiatan Sekolah Desa dan Sekolah Pemuda Desa untuk merespons
              kebijakan pemerintah terkait Dana Desa, yaitu dana khusus yang
              digelontorkan oleh negara untuk pembangunan desa.  Kesempatan
                                                           21
              tersebut dimanfaatkan Ketjilbergerak untuk mendorong anak muda
              desa berpartisipasi aktif membangun desa, tidak hanya pembangunan
              fisik namun juga pembangunan kebudayaan dan kesenian di desa
              mereka. Perhatian Ketjilbergerak terhadap isu-isu pembangunan
              desa terus berkembang, sehingga pada pertengahan 2020 mereka
              menjadi salah satu kolaborator Kongres Kebudayaan Desa yang
              diselenggarakan di Desa Panggungharjo, Yogyakarta.


              Hampir sama dengan Ketjilbergerak, belakangan keberadaan Dana
              Desa juga dimanfaatkan oleh kolektif Pasirputih yang didirikan oleh
              pegiat kultural, aktivis media dan seniman di Pemenang, Lombok


                Dana Desa merupakan salah satu implementasi Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa
              21
              yang menjadi tonggak perubahan paradigma pengaturan desa. Desa tidak lagi dianggap sebagai
              objek pembangunan, melainkan ditempatkan menjadi subjek pembangunan dan ujung tombak
              kesejahteraan masyarakat.
                                                                  Ayos Purwoaji
   193   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203