Page 270 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 270

Gesyada Siregar (Gesya): Di Palu, pasti fungsi ruang berbeda. Di
              Semarang juga. Mungkin, di Palu punya concern tersendiri terkait perlu   249
              tidaknya ruang.


              Rahmadiyah Tria Gayathri (Ama): Kalau di Palu sendiri, sebenernya—
              apalagi di kolektif saya—memang sejak awal ruang itu dibangun untuk
              bekerja dan tidak dibuka untuk publik. Jadi, karena hampir semua
               Untuk dibaca bersama
              anggota kolektif kami tidak berkantor atau tidak bekerja harian, ruang
              komunitas ini kemudian menjadi tempat kami bekerja personal. Pas
              pandemi, kan, semuanya pada di rumah dan sibuk buat kerja-kerja
              personal gitu dan ruang kami tidak terlalu sering diaktivasi. Inisiatif
              kerja-kerja yang sifatnya lepas kayak gitu itu baru kebangun lagi ketika
              kita ketemu semua.


              Gesya: Oke! Tadi, kan, juga disebutkan fungsi ruang—entah sebagai
              tempat bernaung, tempat bekerja—tapi juga, kemudian, di perkembangan
              terkininya, pemahaman kita akan ruang berkolektif itu bukan cuma ruang
              yang dimiliki, tapi juga bagaimana bisa memanfaatkan—kayak tadi Adin
              bilang—dari ruang-ruang publik, sampai kayak poskamling (pos keamanan
              lingkungan) segala macem gitu, dan itu, kan, juga menjelaskan praktik
              komunikasi masyarakat. Katakanlah, semacam gimana praktik kolektif
              berjangkar sama daerah di mana dia berada. Nah, gimana, sih, upaya
              teman-teman dalam membangun pemahaman tetangga-tetangga, warga
              sekitar, mengenai praktik-praktik yang kalian bikin? Dan, apakah juga, itu
              memengaruhi program-program yang kalian buat?


              Ama: Karena konteksnya Palu, kemarin pas 2018, ada bencana,  jadi
                                                                   2
              kami punya kesadaran bahwa ruang itu penting, karena banyak banget
              anggota yang kehilangan rumah dan akhirnya ruang kolektif itu ya
              jadi kayak basecamp kami, jadi rumah tinggal sementara buat teman-
              teman yang belum punya rumah. Dan, akhirnya bikin kami juga punya
              hubungan harmonis dengan warga sekitar karena di momen itu kami
              kemudian dikenal sebagai salah satu relawan yang sejak awal memang
              tinggalnya di situ. Karena waktu itu tidak ada jaringan, lampu mati

              2  Pada 28 September 2018, gempa dan tsunami melanda Kota Palu (Sulawesi Tengah) dan sekitarnya.
                                                                 Ajeng Nurul Aini
   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275