Page 366 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 366

Hambatan kedua adalah sebagai sebuah koperasi jasa, Rakarsa
              sepertinya masih mencari bentuk format program yang jelas, tepat   345
              sasaran, dan konsisten. Akibatnya, hingga saat ini, koperasi Rakarsa
              masih bergantung pada program-program yang ditawarkan dari
              institusi lain yang berupa proyek kerja sama tidak berkelanjutan.
              Sebagai koperasi jasa, Rakarsa belum bisa membangun program
              berkelanjutan dengan parameter yang berorientasi pada aspek
               Untuk dibaca bersama
              keterlibatan anggota. Akibatnya, akan terdapat ketimpangan ketika
              dalam kurun satu tahun ada banyak anggota yang sama sekali tidak
              dapat menjadi bagian dari suatu program karena absennya kebutuhan
              akan keahlian yang mereka miliki. Hal ini mungkin akan dimaklumi
              dalam beberapa waktu di awal terbentuknya koperasi, namun rasanya
              penting bagi masa depan Rakarsa untuk mulai menemukan format
              program yang berkelanjutan yang dapat menampung sekaligus atau
              bergiliran berbagai keahlian anggotanya. Jika tidak, koperasi Rakarsa
              ditakutkan menjadi organisasi yang terlalu mengandalkan peluang
              yang datang tanpa bisa meningkatkan nilai potensi anggotanya secara
              signifikan dan berkelanjutan.


              Hambatan ketiga adalah ketiadaan ruang fisik yang memadai. Dalam
              konteks lanskap seni di Bandung, persoalan ruang selalu menjadi
              kendala, baik ruang untuk berkumpul, berkarya, maupun berpameran.
              Kendalanya tentu berkutat pada akses dan biaya sewa. Sejauh ini,
              Rakarsa sempat memiliki ruang yang baru dapat menampung aktivitas
              administratif. Sebagai koperasi untuk pekerja kreatif, tentunya akan
              sangat membantu dan mempermudah para anggota yang akhirnya
              bisa terlibat dalam program-program yang digagas koperasi Rakarsa
              jika ada ruang fisik yang memadai. Hal ini bisa saja memecahkan
              banyak permasalahan baik dalam tubuh Koperasi Rakarsa maupun
              ekosistem seni di Bandung. Tidak adanya ruang fisik yang bisa dilihat
              oleh publik membuat kerja Rakarsa tidak tampak, dan akhirnya
              terjebak menjadi ketidaktahuan atau, lebih parah lagi, asumsi-asumsi
              yang mengawang-awang (sebut saja, gosip miring).





                                                        Azizi Al Majid & Endira F. Julianda
   361   362   363   364   365   366   367   368   369   370   371