Page 414 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 414
Caniago, 2014), “Passing By” (Pameran tunggal Etza Meisyara, 2018),
dan Ketika Bulan Terbelah (Pameran tunggal Radhinal Indra, 2020). 393
Pada 2017, bersama Adhisuryo ia menulis dan menjadi editor buku
Liplap: 35 Bandung Artists Under 35. Setelah melanjutkan pendidikan di
program pascasarjana ITB, ketertarikannya kini mencakup persoalan
metaphorical truth, praksis artistik dan seni rupa Islam hari ini.
Untuk dibaca bersama
Endira F Julianda (l. Jakarta, 1984) adalah perupa dan pegiat seni
rupa yang berdomisili di Bandung. Ia menuntaskan pendidikan sarjana
program studi Desain Grafis dan sedang menempuh jalur pascasarjana
Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung. Karya-karyanya berkutat
seputar konstruksi akan alam yang ditelusuri melalui observasi
kehidupan urban. Endira telah berpartisipasi dalam berbagai pameran
kelompok, tunggal dan art fair di Indonesia, Singapura, Filipina
dan Taiwan. Selain berkarya, ia pernah terlibat dalam pengelolaan
inisiatif-inisiatif seni rupa di Bandung seperti Platform3, Bandung
Contemporary Art Awards, serta turut mendirikan Koperasi dan
Yayasan Rodha Among Karsa.
Hidayatul Azmi alias Ami (l. Bukittinggi, 1996) menamatkan studi
di Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang pada 2019. Sejak
2017, Ami berfokus pada penelitian tentang seniman Oesman Effendi
dan sejarah seni rupa modern Indonesia. Saat ini Ami berkegiatan di
Ladang Rupa sebagai sekretaris dan peneliti, serta mengampu terbitan
bulanan Ladang Rupa, Tomato Zine.
Hendro Wiyanto memperoleh pendidikan seni rupa di Institut
Seni Indonesia (Yogyakarta) dan filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara (Jakarta). Mengerjakan sejumlah kuratorial pameran di
Indonesia dan menulis mengenai beberapa seniman serta kelompok
seniman, antara lain Alit Sembodo, Dolorosa Sinaga, F.X. Harsono,
Gerakan Seni Rupa Baru, Heri Dono, Jim Allen Abel, Jogja Agropop,
Mahendra Yasa, Melati Suryodarmo, Theresia Agustina, Tisna Sanjaya,
S. Teddy D. dan Ugo Untoro.

