Page 64 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 64
ada penilaian—tidak ada ujian di akhir proses pendidikan. Yang ada
hanyalah dua kelompok peserta, yaitu mereka yang bertahan hingga 43
akhir proses pembelajaran (pameran) dan mereka yang berhenti di
tengah-tengah.
Tantangan bagi sebuah sistem pedagogi seni yang lebih condong
pada pola-pola kolaboratif seperti pola permainan PVE bisa kita amati
Untuk dibaca bersama
dari penjabaran contoh-contoh yang terjadi di Bandung. Hal-hal yang
penting untuk diperhatikan adalah sistem penilaian kolektif, durasi
yang panjang, serta pembiasaan para peserta untuk lebih fleksibel dan
adaptif terhadap perubahan aturan main. Pola permainan PVP tetap
dibutuhkan untuk mengevaluasi perkembangan keahlian tiap pemain.
Peningkatan keahlian setiap pemain akan meningkatkan kemampuan
bertahan dari seluruh kelompok pada PVE, seperti pepatah yang
mengatakan bahwa kekuatan rantai bergantung pada bagian
terlemahnya, a chain is as strong as its weakest link.
Antara PVP dan PVE
Ada interaksi yang harus dipilih oleh para pemain dunia seni di
sepanjang perjalanan karier atau kekaryaan mereka. Akan ada
kesempatan untuk unjuk kemampuan masing-masing dan bertanding
demi mendapatkan hadiah. Namun, hendaknya tiap pemain sadar
bahwa keberhasilan di satu kompetisi tidak akan menunjang
kekaryaan mereka sepanjang masa. Akan ada masa ketika sumber
daya tiap pemain makin berkurang dan mereka harus mendapatkan
sumber daya baru. Tidak ada pemain yang bisa terus-menerus
menang, tapi pemain yang tidak bisa bertahan pasti akan kalah.
Dalam upaya bertahan di dunia seni, seniman dan para pegiat seni
lainnya tengah berjuang bagai tim yang berisi berbagai macam
karakter. Di dalam praktik-praktik kolektif seni sekalipun kita juga
bisa melihat adanya perbedaan peran di antara anggotanya. Secara
keseluruhan, sebuah kolektif seperti pasukan yang menempati menara
jaga. Ada pemanah yang bertugas memantau ancaman dan tantangan.
Permainan Dunia Seni; Permainan: Antara Realita dan Metafora Doni Ahmad

