Page 60 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 60

Muncul pula kelompok-kelompok beranggotakan seniman-seniman
              muda yang giat berkumpul, berdiskusi, dan berpameran tanpa      39
              memiliki ruang yang dikelola bersama. Kehadiran kelompok-
              kelompok seperti kelasentarmalem, YIFI, Pemuda Setempat, Klub
              Remaja, dan Sanggar Seni Rupa Kontemporer juga menambah ragam
              bentuk kegiatan kolektif dari seniman muda Bandung.

               Untuk dibaca bersama
              Beberapa kolektif ini muncul dari interaksi personal antarpengajar
              akademi seni. Namun, posisi umum akademi seni seperti FSRD-ITB
              condong mengabaikan keberadaan kolektif-kolektif tersebut. Hal serupa
              juga dialami oleh kolektif Invalid Urban yang meski sejak 2002 muncul di
              lingkungan Institut Seni dan Budaya Indonesia Bandung (ISBI Bandung),
              namun tidak terintegrasi ke dalam kurikulum formal akademi tersebut.
              Ketertarikan FSRD-ITB pada kolektif di Bandung baru muncul pada 2014
              melalui mata kuliah yang melibatkan dosen mudanya.

              Apakah praktik seni kolektif lantas luput dari pedagogi seni yang
              berkembang di akademi? Jika kita membahas kolektif dalam definisi
              kelompok seniman yang sama-sama berkarya dan berpameran,
              akademi seni secara cukup jelas mengajarkan kemunculan Persatuan
              Ahli Gambar (Persagi), Seniman Indonesia Muda (SIM), dan Gerakan
              Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) melalui mata kuliah sejarah seni
              rupa Indonesia. Namun, jika kolektif yang dimaksud adalah kerja-
              kerja kolaboratif yang berkelanjutan, akademi seni seperti FSRD-ITB
              belum secara dominan mengintegrasikan model semacam ini ke
              dalam kurikulumnya. Jika kita gunakan permainan sebagai metafora
              atas kondisi di Bandung, akademi seni rupa memiliki kurikulum yang
              condong mencetak juara-juara PVP, namun sangat sedikit mata kuliah
              yang mengajarkan PVE.


              Ilubiung muncul pertama kali sebagai proyek mata kuliah Seni di
              Ruang Publik dari Alfiah Rahdini pada 2014. Proyek ini bermula
              sebagai kegiatan kolaborasi antara para seniman muda dengan
              anak-anak warga lokal di Dago Pojok, Bandung. Di tahun berikutnya,
              sekelompok mahasiswa dari angkatan yang lebih muda mengambil

 Permainan Dunia Seni; Permainan: Antara Realita dan Metafora      Doni Ahmad
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65