Page 7 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 7
vi ini absen dari akademi-akademi seni yang ada di Indonesia. Sebab,
pengetahuan yang diajarkan di institusi-institusi pendidikan seni
adalah bentuk-bentuk seni modern yang berkembang di telatah
Barat—yang lebih mengedepankan sikap rasional dan ekspresi
individual. Dalam esai yang ditulis oleh Sanento, kita dapat
melacak gambaran awal kehadiran seni modern di Indonesia yang
menandai berbagai rekahan dan pergeseran sosiokultural, antara
Untuk dibaca bersama
lain “melonggarnya batas-batas kedaerahan” dan “buyarnya tradisi-
tradisi” lama, sehingga memungkinkan lahirnya “seni baru yang
berjarak dengan masyarakat, sebuah manifestasi kesadaran nasional
(...) yang harus disebarkan melampaui batas-batas tradisi kedaerahan
kepada khalayak yang beragam latar belakang kulturalnya.”
Sementara itu, nasib ekspresi seni kolektif yang diwakili oleh bentuk-
bentuk seni tradisi “semakin tersingkir (...) semakin jarang dijumpai”
dan beberapa lainnya “semakin mundur atau terlantar,” bahkan
semakin “rusak.” Barangkali Sanento membayangkan wajah kesenian
kolektif tersebut dari sudut pandang yang sangat terbatas, namun
menuliskannya seolah-olah fragmen kecil tersebut mewakili fenomena
keseluruhan. Selain itu, sangat mungkin bayangan yang Sanento miliki
tentang ekspresi kesenian kolektif itu diletakkan pada ruang beku, di
mana ada standar kualitas tertentu—untuk membedakan mana yang
rusak dan yang tidak—dan menjamin bentuk-bentuk ekspresi yang
dianggap tradisional ini terbebas dari segala perubahan zaman.
Kita dapat menilai bahwa apa yang digambarkan oleh Sanento ini
tidak sepenuhnya akurat dengan membandingkannya dengan catatan
perjalanan sosiolog Umar Kayam yang mengajak kita masuk melihat
ekspresi kebudayaan dari berbagai komunitas masyarakat, mulai dari
Aceh Gayo, Dayak Kenyah Bakung, hingga Asmat. Melalui catatan-
catatan yang ia tuliskan, terdapat kesan bahwa modernisasi memang
terjadi di banyak tempat, namun ekspresi kolektif juga memiliki daya
adaptasinya sendiri dalam menghadapi segala bentuk perubahan. Salah
3
3 Umar Kayam, Harri Peccinotti, Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya, (Jakarta: Gramedia &
Mobil Oil Indonesia, 1985).
Sekapur Sirih

