Page 8 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 8

satu yang sempat dicatat oleh Umar Kayam adalah bentuk kesenian
              didong. Meski sempat mengalami masa sulit ketika pemerintah Indonesia   vii
              memberlakukan daerah operasi militer di Aceh, namun para seniman
              Gayo tetap mempraktikan didong, yaitu sebuah pertunjukan kesenian
              kolektif di mana sekelompok pria menyanyi bersahut-sahutan penuh
              energi semalam suntuk. Hingga hari ini, kita masih dapat menemukan
              bentuk kesenian ini di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Syair-syairnya
               Untuk dibaca bersama
              berkembang mengikuti zaman, dan senimannya juga terus melakukan
              regenerasi. Daya lenting dan kolektivitas yang dimiliki oleh kesenian
              tradisional ini tidak hanya terjadi di Gayo saja, namun juga di berbagai
              tempat di Indonesia.


              Melalui berbagai karya Umar Kayam—baik fiksi maupun non-fiksi—
              kita juga diberikan gambaran bahwa seringkali modernitas dan
              tradisionalitas dapat berjalan berdampingan. Eklektisisme semacam
              ini tentu masih jamak kita temui, bahkan pada masyarakat paling
              heterogen di sejumlah kota di Pulau Jawa sekalipun, di mana
              rasionalitas dapat bersanding dengan spiritualitas, dan individualitas
              berkelindan dengan kolektivitas. Meski kita bisa mencurigai bahwa
              paduan-paduan tersebut sangat mungkin terjadi dalam kerangka
              yang oportunistik dan situasional, namun satu hal yang perlu
              digarisbawahi ialah: ingatan kultural tentang ikatan-ikatan tradisional
              ini tak pernah sepenuhnya hilang pada masyarakat Indonesia—atau
              komunitas masyarakat lain di seluruh dunia yang mengalami proses
              modernisasi yang dipaksakan (forced modernization). Gagasan
              mengenai hibriditas ini juga sempat diperjuangkan oleh Ki Hajar
              Dewantara dalam peristiwa Polemik Kebudayaan pada 1930-an. Pada
              saat itu, budayawan Sutan Takdir Alisjahbana menjadi perwakilan
              dari suara kaum modernis yang percaya pada sebuah gagasan di
              mana Indonesia akan maju jika menguasai dan menerapkan nilai-
              nilai Barat yang progresif berupa materialisme, intelektualisme
              dan individualisme. Di sisi yang berseberangan, Ki Hajar Dewantara
              menilai bahwa penerapan nilai progresif Barat tersebut perlu
              dimesrakan dengan nilai-nilai yang sudah mentradisi dalam



                                                                   Tim Peneliti
   3   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13