Page 93 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 93
72 elama proses riset FIXER 2021 ini, perbincangan soal
seni anehnya tidak terlalu banyak muncul dalam
diskusi-diskusi bersama 59 kolektif yang menjadi
S responden ini. Senda gurau hingga kisah-kisah
mengenai problem keberlanjutan ekonomi, organisasional dan
manajerial cenderung lebih banyak mendominasi. Kalau pun
ada yang sedikit menyinggung soal seni, pembicaraan ini lebih
Untuk dibaca bersama
kepada pemaparan akan program-program yang sedang mereka
kerjakan. Mengapa bisa terjadi demikian? Bagian ini akan
mencoba mencari tahu dan merangkum mengapa hal itu tak jadi
soal atau tidak banyak diperdebatkan.
Pertama-tama, kita perlu membedakan kolektif seni yang dimaksud
di sini dengan kelompok seniman. Akan sangat gampang mendeteksi
artistik atau estetik dari kelompok seniman karena umumnya
praktik utama mereka adalah berkarya dan berpameran bersama.
Kelompok seniman yang dimaksud di antaranya adalah Pita Maha,
Ubud (1936), Komunitas Seni Sakato, Yogyakarta (1995), Kelompok
Seni Rupa Jendela, Yogyakarta (1996), Tromarama, Bandung (2006)
dan Cut and Rescue, Jakarta (2011). Pembeda kelompok seni tersebut
dengan kolektif yang akan ditelusuri di bagian ini adalah apakah
mereka memiliki dan mengelola ruang fisik, membuka ruang fisiknya
untuk khalayak di luar pengurus kolektifnya dan mengerjakan suatu
program/proyek untuk publik secara berkala.
Dalam riset ini, kami mencoba mengurai batasan tipis antara karya
dan program dari sebuah kolektif, karena kadang kita masih sulit
untuk membedakan keduanya. Apakah kekaburan itu problem atau
keuntungan? Kesimpulan yang ditemukan kemudian adalah:
Program bisa dianggap sebagai sebuah karya berdurasi panjang
sekaligus strategi kuratorial. Melalui program, kolektif seni mencoba
menyatakan keberpihakan mereka secara praksis, menggencarkan
strategi-strategi distribusi pengetahuan untuk menyebarkan wacana
Bagai Melihat Jalinan Ampang: Mencari di (ke) Mana Seninya dalam Praktik Kolektif di Indonesia

