Page 96 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 96
makan, minum dan berkelakar bersama antar hadirin—tidak peduli
sebanyak apa hadirin yang datang. 75
Maka dari itu, kita sepertinya perlu melihat ke dalam untuk mencari
perspektif dalam memahami perihal ini: Apa yang terjadi sebelum
praktik-praktik itu dikerjakan, yang kemudian menggerakkan pelaku-
pelaku kolektif ini untuk membuat sesuatu atas nama komunitasnya?
Untuk dibaca bersama
Apa yang memantik semangat ‘bikin, ya, bikin aja’ ini di kolektif-
kolektif yang kami jumpai?
Kolektif Seni di Indonesia: Lembaga Seni Nasharian
Kami menemukan bahwa banyak juga kolektif yang tidak semua
anggotanya terlatih secara akademis di lingkup seni. Sebagaimana
yang banyak kami jumpai di Indonesia, kolektif justru menjadi sekolah
bagi mereka untuk belajar tentang seni dan mengaktualisasi dirinya di
ekosistem seni. Maka dari itu, kita akan menemukan berbagai ciptaan
akan praktik seni yang beragam dari kolektif-kolektif ini, bahkan jauh
menyeleweng dari kurikulum pendidikan tinggi seni di mana pun
sehingga dapat kita baca sebagai sebuah ‘kebermain-mainan’ dari
aspek-aspek kemapanan seni. Itu pula kemudian yang menghasilkan
3
kebutahurufan akademisi seni dalam membaca pernyataan-
pernyataan artistik dalam kolektif Indonesia. Sebab, ia layaknya
sebuah kalimat dari aksara baru yang belum pernah dipelajari. Dengan
sifatnya yang ‘bermain-main,’ praktik artistik kolektif Indonesia ini
pun cenderung bukan suatu perlawanan atas kemapanan infrastruktur
seni arus utama, terutama ketika apa yang didaku sebagai pusat di
ekosistem seni rupa kita semakin bergeser. 4
Praktik artistik kolektif itu dapat dilihat sebagai eksperimen
kelembagaan intuitif berlanggam Nashar (mengacu pada prinsip
Tiga-Non, non-prakonsepsional, non-teknis akademis, dan non-
3 Kemapanan seni yang dimaksud di sini adalah mekanisme pasar seni (misalnya balai lelang atau art
fair), pemahaman akan seniman sebagai individu jenius, dan apa yang banyak dianggap sebagai karya
seni atas (high art).
4 Lih. Ayos Purwoaji, “Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia
2010-2020,” dalam buku ini (hlm. 163)
Gesyada Siregar

