Page 95 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 95
74 seorang seniman sukses yang terlalu sibuk berkeliling dunia,
dari biennale ke biennale, sehingga tidak punya waktu untuk
membuat karya fisik, dalam satu dan lain cara, memanfaatkan
pengunjung pamerannya sebagai karyanya.” 2
Konteks olok-olok tersebut menandakan jagat yang berbeda dengan
kenyataan praktik artistik kolektif seni di Indonesia karena:
Untuk dibaca bersama
Pertama, kolektif-kolektif di Indonesia umumnya berkediaman
di tengah pemukiman, alih-alih distrik niaga. Dalam lingkungan
yang demikian, komunikasi dengan tetangga saat berbelanja ke
warung terdekat, memohon izin kepada ketua RT setempat untuk
menyelenggarakan acara besar, hingga mengobrol dengan tukang ojek
dalam perjalanan pulang dari ruang mereka menjadi hal yang niscaya.
Kemampuan bersosialisasi mau tak mau diasah terus-menerus dalam
keseharian mereka.
Kedua, ketika kita berbicara soal ‘khalayak’ dalam kegiatan-kegiatan
seni para kolektif, khalayak itu seringkali hadir sebagai teman dan
kenalan dari anggota kolektif, baik kerabat dari medan seni maupun
kawan dari latar belakang yang berbeda, sehingga keakraban antara
seniman dan khalayak dapat dipastikan ada dalam kegiatan seni oleh
kolektif. Hal ini tentu berbeda dengan konteks perhelatan seni dari
institusi seni besar seperti museum atau galeri, di mana ‘khalayak’
bermakna luas. Patut dicatat juga istilah seni keterhubungan, yang
pada awalnya dimunculkan Bourriaud sebagai pengantar dalam
katalog pameran di sebuah museum besar yang menampilkan
seniman-seniman individu.
Ketiga, pembukaan acara seni di tiap-tiap ruang kolektif justru
berfungsi sebagai sarana silaturahmi. Pada titik ekstrem, karya yang
ada di acara tersebut bahkan dirasa tidak sesignifikan momen untuk
2 Terjemahan bebas dari kanal YouTube Hennessy Youngman, “ART THOUGHTZ: Relational Aesthetics”
diakses pada 18 Februari 2021.
Bagai Melihat Jalinan Ampang: Mencari di (ke) Mana Seninya dalam Praktik Kolektif di Indonesia

