Page 98 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 98

Selain bentuk seni leluhur yang digunakan sehari-hari, tradisi
              kesenian bersama yang kita ketahui sering digunakan dalam momen-  77
              momen penting sebagai bentuk rasa syukur akan suatu pencapaian,
              persembahan, hingga berkabung.  Kesenian bersama hadir dalam
              situasi suka duka, berkelebihan dan berkekurangan. Situasi pasca-
              fordisme yang ada di Indonesia melesap dengan kecanggungan dalam
              budaya kita, karena segi individualistik dalam kemodernan masih
               Untuk dibaca bersama
              terus diimbangi dengan hasrat kebersamaan dalam masyarakat kita.
              Sebagaimana dilansir oleh Muhammad Faisal, bahwa, “Penetrasi
              ponsel dan koneksi internet yang semakin kuat tidak berbanding
              terbalik dengan intensitas kegiatan nongkrong. Justru sebaliknya,
              semakin terpapar internet, semakin sering pula anak muda melakukan
              nongkrong,”  yang dibuktikan dengan banyaknya komunitas yang
                        12
              berawal dari grup Facebook hingga pandemi yang memancing
              banyaknya acara-acara diskusi kolektif lewat Zoom.

              Kita kemudian dapat berspekulasi bahwa jangan-jangan masyarakat
              kita tidak pernah benar-benar ‘modern.’ Dengan cara pandang
              ini, kita pun bisa memahami bahwa suburnya praktik kolektif di
              Indonesia bukanlah sesuatu yang terberi dari arus glokalitas di abad
              ke-21, melainkan sebuah cara hidup instingtif, yang dibawa dari
              memori yang sudah tertanam secara biologis di tiap-tiap gugus asam
              deoksiribonukleat pelaku-pelaku kolektif Indonesia dari moyangnya.

              Sekalipun zaman sudah berubah, kesejajaran yang bisa kita lihat
              adalah, apabila dulu mereka membuat rumah panggung untuk aktivitas
              keprofesian dan domestiknya (dari bercocok tanam, beternak hingga
              tidur), kini kita menyaksikan bagaimana ruang kolektif digunakan
              oleh para anggotanya untuk berpameran, memutar film, mengetik,
              mendesain, berselancar di internet, mengedit video, juga tidur. Jika
              orang berkumpul dan menyampaikan aspirasinya dengan didong,
              markobar dan musyawarah di balai desa, sekarang ini kita temukan
              bahwa kolektif ini gemar melakukan rapat, forum diskusi dan performans


              12  Dr. Muhammad Faisal, “Generasi Kembali ke Akar: Upaya Generasi Muda Meneruskan Imajinasi
              Indonesia” (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2020) hlm. 233.
                                                                  Gesyada Siregar
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103