Page 97 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 97
76 estetik akademis), yang asyik dalam semesta mikro miliknya tapi
tetap berusaha terhubung dengan ekosistem seni di mana dia berada.
Sebab, setiap anggota kolektif memiliki kesadaran bahwa ia tidak bisa
melakukan kegiatan seni sendirian.
Seni yang Dilakukan Bersama-sama
Salah satu cara pandang yang bisa kita gunakan untuk membaca
Untuk dibaca bersama
praktik artistik kolektif-kolektif ini adalah dengan melihat bahwa
artian ‘seni’ yang mereka hayati merupakan sebuah penerusan (bukan
gerakan kembali) dari prinsip kerja didong (Gayo), kagunan (Jawa),
5
6
sangging dan undagi (Bali), markobar dan panggorga (Batak)
7
8
10
9
serta berbagai budaya leluhur yang ada di Indonesia, sebagaimana
yang pernah dikemukakan oleh Sanento Yuliman. Prinsip-prinsip
11
itu secara umum bertumpu pada siklus keseimbangan alam, diskusi,
kerja bersama, serta menggunakan dengan bijaksana sumber daya
sekitar dan keterampilan masing-masing untuk berkomunikasi secara
luas dan mengatasi persoalan sehari-hari secara artistik. Itu semua
mereka pandang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat
dan semestanya. Sebab, kesadaran bahwa manusia tidak bisa dan
tidak sendirian sehingga harus berkolektif atau bersama bukan hanya
ditujukan kepada antarmanusia, namun juga tanaman, satwa, arwah
leluhur, entitas agung hingga bentang alam sekitarnya—baik itu
sungai, gunung, laut, danau, hingga hutan.
5 Didong adalah kesenian Gayo di mana sekelompok orang duduk melingkar bersama-sama menyanyi
dan menepuk bantal, badan atau tangan untuk membuat bebunyian perkusif. Dimaknai sebagai
“kesenian sambil bekerja atau untuk menghibur hati,” lelaguan didong biasanya membahas persoalan
sehari-hari dengan senda gurau dan berseni.
Kagunan berarti ‘kepandaian,’ ‘kecerdasan,’ dan ‘kegunaan’ (mirip istilah ars dalam bahasa Latin yang
6
kemudian dipakai menjadi art), menjadi prinsip kesenian di mana manusia menciptakan sesuatu yang
berfungsi bagi sekitarnya dan juga bisa untuk menyampaikan perasaan akan keindahan serta pikiran.
7 Sangging adalah pembuat gambar atau visual, baik itu pahatan, lukisan, hingga arca.
8 Undagi adalah seorang arsitek, yang juga ahli dalam agama, adat, seni, dan budaya. Kurang lebihnya
serupa dengan konsep Renaissance man, namun undagi punya aspek sosial yang tinggi (bukan
individualistik). Kata undagi juga erat dengan kebudayaan besi/perunggu
9 Markobar adalah tradisi lisan Mandailing di mana setiap individu yang hadir pada suatu acara penting
diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya secara bergilir. Tradisi ini pun menekankan
pada keterampilan orang untuk berbicara di muka umum, tidak hanya pada aspek diplomatik dan
kepiawaian dalam membuat narasi, namun juga secara artistik
10 Panggorga adalah pemahat patung dan pengukir ornamen Batak.
11 Sanento Yuliman, Dua Seni Rupa: Sepilihan Tulisan Sanento Yuliman, ed. Asikin Hasan (Jakarta:
Yayasan Kalam, 2001).
Bagai Melihat Jalinan Ampang: Mencari di (ke) Mana Seninya dalam Praktik Kolektif di Indonesia

