Page 191 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 191

Setiap kolektif biasanya akan memperlebar jangkauan sosial mereka
         170  melalui jaringan pertemanan dengan kolektif lain. Di Indonesia,
             berbagai bentuk kegiatan seni, mulai dari pameran, biennale, festival,
             simposium, diskusi dan penerbitan, menjadi kesempatan terbesar
             bagi kolektif untuk membangun jaringan di luar dirinya. Selain karena
             persamaan gagasan atau idealisme di antara mereka, ada juga kolektif
             yang terhubung karena mereka tinggal di kota atau wilayah yang
             sama, seperti Pasirputih dengan Lingkar Seni Wallacea, yang terdiri
             dari berbagai kolektif atau seniman yang berada di Indonesia bagian
               Untuk dibaca bersama
             timur. Sebagian kolektif bahkan secara aktif membangun platform
             jaringan mereka sendiri, seperti Ketjilbergerak di Yogyakarta, yang
             mengembangkan jejaring pemuda desa; Ace House Collective, yang
             menginisiasi Arisan Tenggara; dan Hysteria, yang membentuk Syndicate
             of Artist Collective & Alternative Space (SARTCAS). Dalam variasi
             lain, Serbuk Kayu menginisiasi Timur Liar, sebuah pameran yang
             menghimpun karya dan proyek seni kolektif-kolektif lain di Jawa Timur.
             Sementara itu, kolektif lain seperti Lakoat.Kujawas dan Jatiwangi art
             Factory menyelenggarakan program residensi yang memungkinkan
             terbentuknya jejaring baru dengan kolektif lain di luar dirinya.


             Selain melalui media sosial, pertumbuhan kolektif di berbagai kota di
             Indonesia juga sangat mungkin dipengaruhi karena adanya arus balik,
             yaitu ketika beberapa pendiri kolektif seni yang pernah merasakan
             hidup atau bersekolah di kota-kota besar—tempat mereka dapat
             memelajari dan mungkin melibatkan diri dengan dinamika kolektif
             di kota tersebut—membawa pengalamannya pulang ke kampung
             halaman karena melihat potensi untuk mengembangkan hal serupa
             dengan material kebudayaan setempat yang lebih familiar.


             Pemikiran untuk kembali dan membangun desa ini menjadi semakin
             populer di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir. Sebelumnya,
             wilayah perdesaan mengalami brain drain akibat begitu banyak anak
             muda yang merantau ke kota untuk belajar atau bekerja dan tak pernah
             kembali lagi. Fenomena tersebut dapat terjadi akibat pembangunan
             yang tidak merata dan menitikberatkan kemajuan—atau setidaknya
             imajinasi atas kemajuan—pada wilayah perkotaan saja. Saat ini muncul



             Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia 2010–2020
   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196