Page 194 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 194
bahwa “medium artistik kami adalah hidup kami sendiri.” Maka,
15
dapat dipahami jika bagi kolektif seni, praktik seni melebur menjadi 173
satu dengan kenyataan hidup sehari-hari yang mereka jalani,
sebagaimana kebudayaan tradisional yang tumbuh dari realitas
kosmologis sebuah komunitas masyarakat.
16
Praktik seni perdesaan sebagaimana yang dijalankan oleh kolektif
Untuk dibaca bersama
Jatiwangi art Factory dan Lakoat.Kujawas sebetulnya dapat dijejak
melalui berbagai aktivitas yang dilakukan oleh kelompok-kelompok
seni yang berada di bawah naungan Lembaga Kebudayaan Rakyat atau
Lekra (1950-1965), proyek-proyek seni yang dikerjakan oleh Moelyono
melalui bingkai Seni Rupa Penyadaran (1985-2013), dan Komunitas
Lima Gunung, yang diinisiasi oleh Sutanto Mendut sejak 2002.
Bagi estetika revolusioner yang menjadi haluan Lekra, hidup dan bekerja
bersama masyarakat perdesaan adalah bagian penting dari penciptaan
karya seni. Para seniman Lekra yang tinggal di Yogyakarta sekitar tahun
1950-an mengenal dua kata yang sering terdengar diucapkan, yaitu
beleven dan meeleven, yang berarti mengalami dan menghayati, atau
ikut serta merasai apa yang dialami, dihayati dan dirasai oleh sesama.
Pandangan tersebut salah satunya diterjemahkan menjadi sebuah
metode Turba atau turun ke bawah. Hersri Setiawan, seorang seniman
Lekra, menjelaskan bahwa Turba bertujuan untuk mengenal tentang
“bawah,” menangkap “denyut jantung yang di bawah,” serta menjadikan
dirinya sebagai wahana bagi yang di bawah untuk menyuarakan apa
yang terjadi. Hal tersebut hanya mungkin terjadi ketika tidak ada lagi
kesenjangan dengan “yang di bawah” itu sendiri. Hal tersebut juga
menjelaskan mengapa banyak sekali seniman Lekra yang masuk dan
menyebar di wilayah perkampungan kota atau perdesaan. Mereka,
baik yang “terpelajar” maupun yang “tidak makan sekolahan” melebur
menjadi apa yang disebut sebagai pekerja kebudayaan rakyat.
17
15 Pandangan tersebut disampaikan dalam sebuah sesi presentasi yang diselenggarakan oleh Gudskul
pada 8 Januari 2021.
16 Lih. Gesyada Siregar, “Bagai Melihat Jalinan Ampang: Mencari di (ke) Mana Seninya dalam Praktik
Kolektif di Indonesia,” dalam buku ini (hlm. 73)
17 Mengenai pemikiran di balik Turba dapat dicek lebih jauh dalam catatan Hersri Setiawan dalam Antariksa,
Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa-LEKRA 1950-1965, (Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2005).
Ayos Purwoaji

