Page 192 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 192
sebuah arus balik, di mana sebagian kalangan terdidik memiliki
keinginan untuk kembali dan membangun desa. Mereka melihat desa 171
dengan cara pandang baru sebagai wilayah yang memiliki keragaman
dan sumber daya kultural sehingga berpotensi untuk diolah dan
dikembangkan. Kalangan terdidik inilah yang kemudian membawa
beberapa perubahan, termasuk di antaranya mengembangkan kegiatan
literasi, mengorganisasi warga untuk mengelola aset kultural, hingga
Untuk dibaca bersama
melibatkan warga dalam kerja-kerja seni.
Pendiri kolektif Jatiwangi art Factory (JaF), Arief Yudi, misalnya,
semula aktif sebagai penggerak kesenian di Bandung. Setelah sekitar
sepuluh tahun menggeluti teater dan membuat berbagai pementasan,
pada 1998 ia memasuki dunia seni rupa dengan mendirikan Galeri
Barak sebagai ruang alternatif—di luar berbagai art space yang sudah
ada—untuk memamerkan karya seniman-seniman muda Bandung.
Galeri Barak hanya bertahan selama empat tahun. Selanjutnya,
didorong oleh berkembangnya gagasan mengenai publik dalam
wacana seni rupa dan pandangan Joseph Beuys, yang menyatakan
bahwa “semua orang seniman,” ia pun kembali ke tanah kelahirannya
di Jatiwangi, yang dikenal sebagai daerah penghasil genteng. Di
Jatiwangi, Arief Yudi mencoba memanfaatkan material kebudayaan
dan ingatan kolektif yang ada untuk dieksplorasi ke dalam berbagai
bentuk presentasi seni. Dalam sebuah wawancara dengan Hafiz
Rancajale dan Otty Widasari, Arief Yudi mengatakan bahwa ia
mendirikan Jatiwangi art Factory pada 2005, tepat setahun setelah
peraturan mengenai otonomi daerah ditetapkan. Bagi Arief Yudi,
kebijakan pemerintah tersebut membuka peluang bagi setiap daerah
untuk mengatur kebudayaannya sendiri, sehingga “masing-masing
wilayah akan punya karakter sendiri dan bayangan ke depan sendiri,”
berkebalikan dengan kebijakan kebudayaan pada rezim Orde Baru
yang bersifat sentralistis dan terutama Jawa-sentris. 12
12 Hafiz Rancajale, “Arief Yudi: Dramaturgi Kolektif,” https://sudji.id/id/arief-yudi-dramaturgi-kolektif/,
diakses pada 18 Desember 2020.
Ayos Purwoaji

