Page 195 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 195

174  Memiliki latar berbeda, Moelyono juga memulai kerja-kerja bersama
             masyarakat perdesaan di Tulungagung, Jawa Timur, sejak ia masih
             mahasiswa. Mulanya, pada sekitar 80-an, ia termasuk seniman yang
             gemar melukis tema kemiskinan dengan corak realis. Namun, dalam
             perjalanannya, muncul kegelisahan karena ia tak ingin berhenti
             pada hubungan konvensional di mana seniman hanya menjadikan
             orang-orang miskin sebagai obyek mati di atas kanvas. Moelyono
               Untuk dibaca bersama
             membayangkan sebuah hubungan di mana seniman dan masyarakat,
             sebagai pemilik masalah, bersama-sama mengupas berbagai
             ketimpangan yang terjadi. Sejak saat itu, ia pun menjadi fasilitator
             yang membangun proses kesenian bersama warga, mulai dari desa di
             Teluk Brumbun dan Nggerangan; Desa Wonosari di Tulungagung; Desa
             Kebonsari di Pacitan; Dusun Sumber dan Ngguyangan di Ponorogo;
             hingga ia mendapatkan kesempatan untuk meluaskan praktik
             artistiknya ke desa-desa di luar Jawa, antara lain di Lombok, Kupang,
             Rote, Maumere, Luwuk, Aceh, Medan, Pulau Seram, Ambon, Jayapura,
             Kerom, hingga Distrik Kurima di Wamena.
                                                18

             Sementara itu, Komunitas Lima Gunung terbentuk pada 2002 atas
             prakarsa budayawan Sutanto Mendut. Seniman-seniman yang
             tergabung di dalamnya merupakan warga yang tinggal di desa-desa di
             kawasan lereng Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing,
             Gunung Andong dan Perbukitan Menoreh. Sebagian besar dari mereka
             sehari-hari berprofesi sebagai petani, peladang dan peternak. Bagi
             mereka, kesenian menjadi bagian untuk merayakan waktu luang yang
             mereka miliki. Selama dua dekade, seniman-warga ini membentuk
             sebuah ekosistem kesenian dan merayakannya melalui Festival Lima
             Gunung, sebuah pagelaran seni yang bermartabat karena dibangun
             oleh dukungan dan kemandirian warga, tanpa pernah bergantung
             pada pendanaan eksternal sekalipun. Bentuk pengorganisasian
             mereka bersifat horizontal. Semua warga dapat mengambil peran dan

             18  Pada awal 2000, Moelyono bersama beberapa kawan Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK) membentuk
             Lembaga Budaya Desa (LBD) yang membangun jejaring kesenian dengan komunitas-komunitas budaya
             di jalur pantai selatan Jawa  Timur, yaitu Desa Kebonsari, Pacitan; Desa  Tugurejo, Ponorogo; Desa
             Winong dan Pagerwojo, Tulungagung; serta Desa Glagahdowo, Malang. Beberapa hasil dari kerja seni
             di perdesaan ini dipresentasikan sebagai pameran antara lain di Yogyakarta, Tokyo dan Hiroshima. Lih.
             Moelyono, Pak Moel Guru Nggambar (Yogyakarta: INSIST Press, 2005).
             Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia 2010–2020
   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200