Page 196 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 196
menyumbang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tanpa adanya
ambisi atau target yang dipaksakan, sebagaimana logika proyek- 175
proyek seni yang bergantung pada struktur pendanaan eksternal—
sehingga wajar jika banyak proyek seni yang tidak dapat bertahan
lama karena pendanaan yang macet. Sistem kerja Komunitas
Lima Gunung yang sekilas bersifat subsisten itu ternyata mampu
menyokong ekosistem kesenian di antara mereka dalam waktu
Untuk dibaca bersama
lama. Melalui subsistensi yang dijaga seperti ini, rupanya mereka
justru mampu menghargai bentuk-bentuk modal lain yang selama
ini mereka miliki, misalnya waktu luang, kemurahan hati, humor,
hubungan sosial, solidaritas, keterbukaan dan rasa saling memiliki.
Sehingga, pandangan bahwa subsistensi harus dihindari dalam
mengelola sebuah ekosistem seni rasanya perlu dikalibrasi ulang.
19
Setelah 2010, terdapat beberapa kolektif seni di Indonesia yang
tumbuh dan bekerja dalam konteks perdesaan, di antaranya adalah
Ketjilbergerak (Yogyakarta), Pasirputih (Lombok), Prewangan Studio
(Tuban), Sudut Kalisat (Jember) dan Rumah Budaya Sikukeluang
(Pekanbaru). Kami meyakini masih ada lebih banyak lagi kolektif
atau kelompok seni yang tumbuh dan bekerja di kota-kota kecil,
perkampungan dan perdesaan yang belum dicatat dalam tulisan ini,
sehingga dapat menjadi rekomendasi sebagai bahan penelitian lebih
lanjut di masa mendatang. Melalui keberadaan mereka, beberapa hal
dapat dipelajari. Salah satunya adalah peta sumber daya yang selama
ini mungkin luput dari perhatian ekosistem seni yang tumbuh di
wilayah perkotaan.
Kolektif dan kelompok seni di atas membuktikan bahwa mereka
mampu bertahan, mengakar dan mengembangkan diri justru
dengan memanfaatkan modal sosial dan material kebudayaan yang
terdapat di wilayah perdesaan yang mereka tinggali. Rumah Budaya
Sikukeluang, misalnya, didirikan atas inisiatif para seniman sejak
2010 untuk merespons berbagai isu sosial dan budaya di sekitarnya,
19 Lih. Renal Rinoza, “Lumbung: Berbagi Daya, Berbagi Kuasa,” dalam buku ini (hlm. 231).
Ayos Purwoaji

