Page 193 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 193

172  Begitu juga dengan Dicky Senda, pendiri kolektif Lakoat.Kujawas,
             yang memilih kembali ke desa setelah sebelumnya dikenal sebagai
             seorang sastrawan, yang sudah menerbitkan beberapa buku, dan
             berprofesi sebagai konselor pendidikan di salah satu sekolah
             swasta di Kota Kupang.  Pada 2016, ia memutuskan untuk kembali
                                 13
             ke rumah masa kecilnya di Desa Taiftob, Mollo Utara. Kepulangan
             tersebut membuatnya mulai menyadari berbagai permasalahan
               Untuk dibaca bersama
             sosial yang terjadi di desanya, antara lain minimnya tingkat literasi
             dan terbatasnya akses buku bagi anak-anak, terjadinya perdagangan
             manusia, serta hilangnya pengetahuan generasi muda atas kekayaan
             pangan dan kearifan lokal. Ia pun mulai membuka ruang dan menyusun
             program, lalu mengajak anak-anak muda di desanya untuk melakukan
             pengarsipan dan pendokumentasian budaya. Mereka mencatat
             berbagai tumbuhan dan olahan pangan lokal, membuka program
             residensi bagi seniman dan sastrawan, hingga membuat berbagai
             lokakarya yang menghubungkan antara kesenian dan ekologi. 14

             Kerja-kerja seni (atau aktivisme seni) yang dilakukan oleh Arief Yudi
             dan Dicky Senda tentu akan susah dipahami melalui sudut pandang
             yang menempatkan proses penciptaan seni sebagai sebuah laku
             individu yang harus dimaterialisasikan sebagai karya seni yang konkret
             atau berwujud. Sebab, dalam perkembangannya, semakin banyak
             kolektif seni di Indonesia yang lahir di luar kerangka keperupaan
             dan justru lebih banyak melibatkan kerja-kerja lintas disiplin. Proses
             penciptaan seni yang mereka lakukan—sekaligus karya seni yang
             dihasilkan—hanya dapat dilihat melalui jarak pandang tertentu karena
             memiliki bentangan waktu yang panjang dan melibatkan partisipasi
             khalayak. Kolektif-kolektif seni semacam ini memandang praktik
             artistik lebih sebagai metode kerja, proses, eksperimentasi, atau
             bahkan jembatan untuk menangkap dan membangun kesadaran atas
             permasalahan sosial yang lebih luas di masyarakat. Dalam sebuah
             kesempatan, Akiq AW, anggota kolektif Ruang MES 56, mengatakan



             13  Dicky Senda juga menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Yogyakarta.
             Dalam beberapa kesempatan ia terlibat dan mengalami beberapa acara seni di Yogyakarta.
             14  Fransiskus Wisnu Wardhana Dany, “Dicky Senda Mewujudkan Mimpi Dari Mollo,” Kompas (27 Juli 2020).
             Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia 2010–2020
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198