Page 197 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 197
176 terutama permasalahan lingkungan hidup di wilayah Provinsi Riau.
Pada 2014, kolektif seni ini membuat kampanye Melawan Asap—
untuk memprotes kebakaran hutan yang meluas di Sumatera—dan
menyelenggarakan sebuah program residensi seni, lokakarya, hingga
festival untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas wilayah hutan
konservasi Rimbang Baling. Bagi Sikukeluang, kesatuan ekosistem
budaya dan hayati di Rimbang Baling merupakan sebuah laboratorium
Untuk dibaca bersama
hidup yang dapat dimanfaatkan oleh para seniman, pekerja budaya,
hingga aktivis lingkungan.
20
Lebih lanjut, di wilayah pantai utara Tuban, Prewangan Studio
melihat kehidupan masyarakat pesisir sebagai ruang bermain dan
eksperimentasi mereka. Semangat bermain-main itu masih sangat
terasa bagi kolektif yang baru berdiri pada 2020 ini, yang anggotanya
terdiri dari anak-anak muda dari berbagai macam latar belakang,
mulai seniman, tukang meubel, nelayan, mekanik, sampai dokter
hewan. Keinginan berkumpul dan bermain bersama untuk merespons
kebutuhan dan kondisi sosial yang terjadi di sekitar mereka adalah
dorongan terbesar terbentuknya kolektif Prewangan Studio. Kegiatan
mereka berupa kelas dan lokakarya dapat diikuti oleh warga desa.
Misalnya saja, mereka membuat lokakarya untuk membuat obat
ternak yang awet disimpan, mesin peracik ramuan jamu berdasar
tafsir mimpi, hingga modul pembelajaran seni rupa kontemporer yang
mudah dipahami oleh warga desa.
Latar belakang keinginan untuk berkumpul karena semangat bermain
dan menghabiskan waktu luang bersama juga dapat ditemukan di
kolektif Sudut Kalisat di Jember, Jawa Timur. Kolektif ini terdiri dari
sekelompok anak muda yang aktif mengumpulkan dan bekerja dengan
arsip foto dan artefak sejarah dari lingkungan sekitarnya. Melalui
temuan-temuan tersebut, mereka menggali ingatan dari penduduk
mengenai sejarah kecil yang pernah hadir di kota kecamatan tersebut.
Arsip, artefak dan cerita yang mereka kumpulkan kemudian disusun
20 Edwin Jurriëns, “Indonesian Artivism: Layers of Performativity and Connectivity,” dalam Australian
and New Zealand Journal of Art, No. 2 (2020), hlm. 231-252.
Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia 2010–2020

