Page 292 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 292

monetize. Itu, kan, persoalan besar. Nah, kami belum bilang kalau kami
              berhasil di sini. Tapi, kami mencapai ini dan kami belum tahu mau   271
              ngapain-nya gitu. Cuma, basisnya masih iman, ya. Agak berat kalau
              basis iman. Balik lagi kayak pondok pesantren atau perguruan pencak
              silat. Nah, ini yang jadi pekerjaan rumah berikutnya.


              Nisa: Kalau Sanggar sendiri sih, itu juga jadi pertanyaan banyak
               Untuk dibaca bersama
              teman, ya. Kayak, kenapa Sanggar masih bisa hidup di usia 26 tahun?
              Itu juga menjadi sebuah misteri. Karena, maksudnya, Sanggar sendiri
              hidup bukan karena punya uang banyak. Kita juga kalau fundraising
              bukan hanya dana yang dipikirin, tapi dukungan, keterlibatan dalam
              segi waktu. Karena dana bisa saja habis, tapi kalau waktu tidak
              pernah habis. Teman-teman selalu kembali ke Sanggar. Kalau ada
              kelas, mereka terlibat segala macam. Dari hal-hal kecil yang pernah
              kami jalanin, kami belajar terus. Anak-anak Sanggar itu jadi punya
              tim musik yang sekarang jadi sering dipanggil kalau acara-acara
              ulang tahun perusahaan atau acara-acara individu. Biasanya, kami
              dapat bentuk apresiasi kalau itu dananya dialokasikan untuk biaya
              pendidikan. Jadi, ditabung pribadi oleh anak-anak yang mentas pada
              saat itu. Nah, sisanya memang kami tetap mengajukan proposal ke
              pemerintah. Istilahnya, kami punya gagasan, tapi tidak punya uang.
              Kami juga punya unit usaha Studio Kopi Sang Akar di daerah Tebet,
              Jakarta Selatan. Itu usianya udah enam tahun. Dan itu juga jadi titik
              kumpul komunitas-komunitas pendidikan, seniman-seniman. Di situ
              bukan hanya kedai, tapi juga ruang kolaborasi karena juga ada ruang
              sinemanya. Kami bisa nonton film, diskusi,  bikin acara workshop.
              Tapi, sayangnya, udah tutup pas pandemi—kemarin bulan Juli—
              karena biaya operasional tahunannya cukup mahal. Tapi, kami juga
              baru dua tahun ini mendirikan unit usaha Kedai Kopi Ndalem Eyang.
              Itu juga sama seperti Tebet, jadi ruang kumpul teman-teman pegiat
              pendidikan, seniman juga. Nah, itu yang kami harapkan bisa mem-
              back up operasional  Sanggar karena kami udah di bawah naungan
              yayasan. Jadi, yayasan juga bertanggung jawab membuat unit-unit
              usaha itu.



                                                                 Ajeng Nurul Aini
   287   288   289   290   291   292   293   294   295   296   297