Page 289 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 289
268 hal yang penting untuk keberlanjutan kolektifnya, termasuk sampai
kepada, misalkan, kesejahteraan anggotanya, tidak cuma bagaimana
dia bisa terus ngejalanin praktiknya? Apakah ada yang menyadari
sejak awal? Atau, kira-kira kapan mulai tercetusnya? Atau, mungkin,
seiring dengan waktu, “oh! Kita udah berkeluarga, nih! Ternyata tidak
bisa terus-terusan begini!” Atau, ada yang lain? Mas Anang mungkin
bisa mulai duluan.
Untuk dibaca bersama
Anang: Kalau dari MES 56 sendiri, di Jogja situasinya berbeda dengan
yang di Jakarta. Artinya, kalau di Jakarta, kentut aja bayar. Kalau
di Jogja, makan lima ribu aja masih bisa. Tapi, secara kolektif, kami
menyadari ke-chaos-an itu sejak 2018, waktu kami mulai merasa
tidak bisa melulu self-funding. Self-funding itu dalam arti iuran. Nah,
di 2019 akhir kami memutuskan untuk membuat unit usaha baru.
Kami menghitung semua benda yang ada di MES, semua sumber
daya manusianya, semua kebutuhan hariannya, sampai kebutuhan
tahunannya. Kemudian, kami mendapati angka-angka basic cost untuk
menjalankan MES selama sebulan, selama setahun. Dari situ kami
merasa sangat kerdil dan merasa sangat abai dengan situasi itu.
Daripada nyari sponsor sama perusahaan tambang atau perusahaan
kelapa sawit, kami kemudian berpikir, “ini aja, deh, kita menjalankan
unit usaha.” Dari mulai 2020 awal hingga Desember, yang tadinya kami
hanya sebatas cita-cita atau impian masing-masing anggota bisa dapat
gaji, itu kami baru bisa mewujudkannya saat ini. Dan, sampai akhir
Desember ini, kami bisa save untuk basic cost operasional kami untuk
lima tahun ke depan.
Sekarang atau Sepuluh Tahun Lagi?

