Page 133 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 133

112  festival, diskusi, penerbitan, pemutaran film dan video, website,
             pengarsipan dan penelitian. Paduan kedua praktik itulah yang dengan
             sangat jelas membedakan peran dan jenis organisasi dan kelompok
             seniman yang berkembang saat ini daripada generasi sebelumnya.”
                                                                      10

             Akan tetapi pergeseran dari “aktivisme,” yang “seolah muncul” pada
             periode 80-an ke arah “kolektivisme”—sebagai “kesadaran nyata,”
               Untuk dibaca bersama
             tidak lagi “seolah-olah”—dalam kamus ruru, tidaklah sepenuhnya
             menghilangkan peran-peran atau karir individu (seniman atau
             bukan seniman). Ardi Yunanto—bergabung dengan ruru sejak 2004—
             menyampaikan, “ruru didesain begitu leluasa agar tiap orang dapat
             terus berkarya secara individu,” untuk menggambarkan “aktivisme”
             yang bisa dikerjakan individu maupun gerombolan baik di dalam
             maupun di luar ruru. Dan, “ketimbang memandang ruangrupa
             sebagai organisasi kaku yang menganggap bahwa siapa pun bisa
             menggantikan posisi tertentu di dalamnya, barangkali lebih pas
             untuk memandangnya sebagai sebuah kelompok musik, yang seiring
             perjalanan memperkaya dirinya dengan banyak musisi dan beragam
             instrumen.” Dan, barangkali karena ruru “didesain begitu leluasa,”
             maka kantornya pun sering kemalingan. Baru pada 2015, kolektif
             seniman yang sohor ini memiliki satpam 24 jam.
                                                      11

             Kecenderungan munculnya berbagai kolektif seniman ini, antara lain
             agaknya telah didorong oleh makin tersebarnya inisiatif dan giatnya
             ruru mengadakan rangkaian acara presentasi dan lokakarya—terutama
             di ranah seni video—bagi perupa muda dan khalayak di luar Jakarta.
             Seni video dapat dikatakan sebagai medium-aktor utama dalam
             perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia pada 2000-an,
             menggeser kegandrungan perupa akan seni instalasi pada 90-an.
             Perkembangan pesat berbagai model inisiatif seniman ini melalui
             pembentukan kolektif/kelompok/komunitas oleh para perupa bisa


             10  Ade Darmawan, “Memperbaiki Mata Rantai Siklus Gagasan,” dalam katalog FIXER: Pameran Ruang
             Alternatif & Kelompok Seni Rupa di Indonesia (selanjutnya, FIXER 2010), hlm. 18.
             11  Ardi Yunanto, Ajeng Nurul Aini, Ade Darmawan, Indra Ameng, ruangrupa 2000-2015 (ruangrupa:
             Jakarta, 2015), diterbitkan dalam rangka perayaan ulang tahun ruangrupa ke-15 dan pembukaan ORDE
             BARU OK. Indonesia Media Arts Festival, pada 14 Juni 2015, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.
             Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme
   128   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138