Page 134 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 134

dilihat, misalnya, pada satu dekade terakhir 2000-an. FIXER: Pameran
              Ruang Alternatif & Kelompok Seni Rupa di Indonesia, yang diadakan   113
              di Jakarta pada 2010, misalnya, telah mencatat puluhan kelompok
              semacam itu—yang sebarannya mencakup sejumlah kota di luar
              Jakarta, seperti Bandung, Yogyakarta, Cirebon, Jatiwangi, Semarang,
              Surabaya, Malang, bahkan sampai Makassar dan Padang Panjang.

              Tikungan ruru
               Untuk dibaca bersama
              Tikungan ruru pada 2000 tertandai oleh acara debat yang
              diselenggarakannya sendiri. Debat antara dua komunitas perupa muda
              di Yogyakarta mengenai ruang khalayak yang diselenggarakan oleh
              ruru sesungguhnya menyiratkan apa yang menjadi fokus perhatian
              komunitas seniman muda di Jakarta ini. Di bagian muka, Ugeng telah
              menyebut “pemerihalan khalayak” sebagai suatu tendensi tertentu
              di kalangan perupa di masa sebelumnya. Kehadiran dua kelompok
              perupa pada 2000, seperti sudah diduga sebelumnya, menghasilkan
              setidaknya dua versi berbeda mengenai fungsi dan keberadaan ruang
              khalayak. Yang pertama, seperti ditunjukkan oleh kecenderungan
              praktik Taring Padi, ruang khalayak adalah medan peleburan aktivisme
              seniman—dari pembuatan baliho berisi pesan-pesan pemberdayaan
              sosial hingga penyelenggaraan festival—bersama khalayak, seluas
              dan seumum-umumnya di tiap ruang tempat agenda “politik” itu
              berlangsung. Jika ruang khalayak dimaknai sebagai arena tindakan
              sosial—tindakan seseorang yang dilakukan dengan sadar untuk
              memengaruhi dan menimbulkan reaksi dari orang atau pihak lain—
              maka aktivisme Taring Padi pertama-tama adalah pernyataan politik
              para seniman, yakni untuk tujuan atau pesan yang diharapkan dapat
              membawa perubahan politik dalam kehidupan sosial. Yang kedua,
              seperti dicontohkan oleh aktivisme Apotik Komik, agenda peristiwa
              itu merupakan upaya seniman untuk meluaskan wilayah ekspresi atau
              perbincangan seni mereka, membebaskan para seniman sendiri dari
              kungkungan politik seni di dalam medan seni yang melingkupinya.







                                                                 Hendro Wiyanto
   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139