Page 138 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 138
sebelumnya lebih berbentuk festival
(sejak 2003)—sekali lagi tanpa preseden 117
festival sejenis sebelumnya di Indonesia.
OK. Video kemudian berkembang
menjadi divisi kelembagaan yang
berfokus pada pengembangan seni
berbasis teknologi media di Indonesia
Untuk dibaca bersama
melalui lokakarya, pengarsipan,
produksi dan distribusi karya-karya seni
media di Indonesia. Politik kebudayaan
15
itu mau mengatakan,
Festival OK. Video pertama (2003)
berupaya mengaitkan dua ranah itu, bahwa tidak ada
dengan menyadari kenyataan khas kawasan keindahan
di Indonesia, yakni “pengalaman khusus di dalam
perkembangan sejarah seni dan ekspresi seni, apakah
teknologinya (yang) berjalan terpisah.” itu bersumber
Pada satu sisi, temuan-temuan baru
di ranah teknologi akan membuka pada “hiruk-pikuk
kemungkinan baru di lingkup artistik, kota” atau sepasang
sejalan dengan penggunaan media bola mata penyair
video dan gambar bergerak. Akan yang merindukan
tetapi, para perupa juga menyerap “keindahan,” yang
pengalaman masyarakat yang
menyiasati perkembangan teknologi berakhir dengan
itu dengan cara hidup mereka sendiri. kebutaan.
Di tangan warga atau konsumen tekno,
teknologi tidak berhenti sebagai sarana
konsumtif, tetapi juga bergeser menjadi
alat produksi dan tak jarang suatu
“muslihat estetis.” 16
15 Ardi Yunanto, Ajeng Nurul Aini, Ade Darmawan, Indra
Ameng, ruangrupa 2000-2015.
16 Mahardika Yudha, “Sudah Waktunya Menggunakan Hak
Jawab Kita,” dalam katalog MUSLIHAT OK. Video: 6 Jakarta
th
International Video Festival 2013, hlm. 6.
Hendro Wiyanto

