Page 137 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 137

116  “pusat kesenian” di ibukota ini dengan ekspresi budaya warganya.
             Pada tataran praktik, celah itu adalah antara kecenderungan
             estetika yang dominan—kecenderungan yang kuat mengarah pada
             estetisme—dengan ekspresi keseharian warganya.
                                                         14

             Kecenderungan estetisme agaknya bisa ditunjukkan melalui ungkapan
             seorang penyair Indonesia terkemuka di dalam puisi yang dikutip di
               Untuk dibaca bersama
             bagian awal tulisan ini. Adapun “politik kebudayaan” ruru terwakili
             oleh ungkapan eksplisit pengarang anonim,  ternyatakan oleh
             teks pada poster pameran FIXER 2010. Politik kebudayaan itu mau
             mengatakan, bahwa tidak ada kawasan keindahan khusus di dalam
             ekspresi seni, apakah itu bersumber pada “hiruk-pikuk kota” atau
             sepasang bola mata penyair yang merindukan “keindahan,” yang
             berakhir dengan kebutaan.

             Memang, tikungan ruru adalah upaya kolektif seniman yang nyaris
             tanpa preseden sebelumnya. Mereka memutuskan untuk “mengerjakan
             proyek-proyeknya sambil jalan, dengan berani, tidak takut salah serta
             penuh keyakinan—karena tidak banyak contoh juga pada awalnya.”
             Di bagian muka, kolektif ini bahkan kerap kali dibayangkan oleh salah
             seorang anggotanya lebih sebagai grup musik, yang “memperkaya
             diri dengan banyak musisi dan beragam instrumen,” ketimbang
             sehimpunan—berapa pun jumlahnya—para “penyair buta (yang) duduk
             di jendela dan tertawa/menghadap ke kota.”

             Ruru berkembang dengan cara melibatkan aktivisme kolektifnya,
             terutama pada dua isu sekaligus, yakni budaya urban dan kemajuan
             pesat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Kelindan
             keduanya sesungguhnya menunjukkan pergeseran terus menerus
             sekaligus keserentakan kondisi mutakhirnya, yang terjadi di
             lingkup global. Contoh aktivisme dan pergeserannya ini, misalnya,
             ternyatakan dalam model penyelengaraan OK. Video, yang


               “Estetisme” dimaknai sebagai penggunaan kategori-kategori estetik, yakni tentang nilai-nilai keindahan
             14
             di dalam karya seni, untuk menanggapi nilai-nilai di luar kawasan keindahan dan memandang masalah-
             masalah sosial dengan pandangan estetik semata. (Lih. Ignas Kleden,  idem). Puisi karya Subagio
             Sastrowardoyo yang dikutip di atas dapat dikatakan sebagai contoh terbaik perihal “estetisme.”
             Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme
   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142