Page 140 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 140

bisa diakses di mana pun, tanpa sekat maupun batasan tempat. Akan
              tetapi, dunia ketiga dalam ranah digital merupakan realitas lain yang   119
              tetap tidak terjangkau oleh platform itu, masyarakat-masyarakat
              yang tidak mampu memperoleh atau mengakses “the Net” yang
              semakin menjadi kebutuhan utama. Realitas itu, kata Perupa Amerika
              keturunan Nigeria, Olu Oguibe, tersebar di seluruh dunia kita, di
              “Dunia Ketiga” maupun “Dunia Pertama,” baik di Afrika maupun di
               Untuk dibaca bersama
              Amerika Serikat. 17

              Dengan kecenderungan menghilangkan atribut “seni” pada tajuk
              festival ini, dan kesinambungan lokakarya video di berbagai daerah
              atau kota-kota kecil, agenda ini secara tersirat memandang “the
              Net,” yang hakekatnya adalah perpanjangan dari realitas sehari-hari,
              alih-alih memandang realitas Dunia Ketiga, sebagai “Taman Jurassic,”
              di mana segala hal bisa diciptakan dan direkayasa. Dalam konteks
              “siasat” seperti itu, fakta-fakta atau kondisi nyata mengenai eksistensi
              sehari-hari masyarakat lebih mencuri perhatian para seniman,
              ketimbang membiarkan “kehilangan diri kita sepenuhnya di dalam
              fiksi narasi ilmiah kreatif yang mempesona.”
                                                   18

              Pada pameran FIXER 2010, Ade Darmawan menuliskan bahwa
              keberadaan kolektif seniman seperti ruru dan yang lain telah menandai
              “perubahan posisi seniman di tengah masyarakatnya” sesudah 1998.
              Kolektif ini dipandang sebagai peluang dan usaha untuk memperbaiki
              “terputusnya mata rantai siklus produksi gagasan seni rupa,” yang
              akan “membawanya ke dalam konteks masyarakat lebih luas.”   Dan,
                                                                  19
              meski ruru adalah “model” yang dipraktikkan untuk lingkungan urban
              khas di Jakarta, tetapi siasat seniman untuk meluaskan publik seni
              ke tingkat kewargaan bisa sangat luwes diterapkan di tempat-tempat
              lain. Inilah yang bisa disebut sebagai strategi politik seni sebagai
              bagian dari politik keseharian, yakni memaknai ruang khalayak sebagai


                Massimiliano Gioni, “An Interview with Olu Oguibe,” dalam Third Text 47 (Summer, 1999), hlm. 52.
              17
              18  Ibid, hlm. 53.
                Katalog FIXER 2010, hlm. 008-009.
              19
                                                                 Hendro Wiyanto
   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145