Page 145 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 145

124  pelukis atau pengamat “naif” yang berada di luar sejarah seni dan
             tidak mampu menangkap pemahaman atas karya-karya seni yang
             khas, yang nilainya terkait dengan sejarah khas tradisi artistik.
             Pasalnya, pencerapan gejala estetik menuntut kemampuan khas di
             dalam suatu ranah produksi seni yang otonom, yang tidak terlepas
             pula dari kekhasan suatu kompetensi budaya. Penguasaan atas ihwal
             yang estetis—elemen utama di dalam aristocracy of culture—hanya
               Untuk dibaca bersama
             bisa diperoleh melalui kontak dengan karya seni, yang dipelajari
             tanpa melalui kaidah-kaidah atau kriteria eksplisit. Bahkan, di
             kalangan para ahli estetika pun, kata Bourdieu, kriteria untuk
             menentukan sifat-sifat stilistik atau gaya (seni) tertentu, misalnya,
             tetap bersifat implisit. 29


             Bienial adalah suatu upaya kolektif, bukan lagi sebuah tolok ukur untuk
             menandai secara “implisit” prestasi para seniman, melainkan untuk
             menunjukkan siasat dan daya hidup “eksplisit” warga, menjadi “bienial”
             yang mengetengahkan siasat dan kemenangan-kemenangan kecil warga.
             Contoh untuk itu digambarkan oleh Anwar ‘Jimpe’ Rahman melalui
             upaya warga Kampung Pisang, pemukiman padat Makassar bagian
             selatan, yang sejak awal 2000 bersiasat membangun perkampungan
             dengan tanah urukan pembuatan danau di wilayah GMTDC (Gowa-
             Makassar Tourism Development Corporation), yang selalu rentan untuk
             digusur dari tahun ke tahun. Representasi siasat itulah yang ditampilkan
             oleh para seniman di dalam bienial. Bentuk-bentuk representasi akan
             menguji kembali keefektifan bahasa atau narasi visual menampilkan
             kembali siasat-siasat itu ketimbang nilai “seni”nya.


             Survei ke lokasi hunian warga, misalnya, dilakukan oleh kurator muda
             yang lain ke Paguyuban Warga Strenkali Surabaya (PWSS). Wadah
             ini terdiri dari para warga yang menempati daerah pinggir kali yang
             dianggap ilegal oleh pemerintah setempat. Meski hunian mereka tidak
             jauh dari PDAM, dan mereka ikut menjaga kebersihan sungai, namun
             air bersih tidak mengalir ke wilayah mereka. Kolektif seniman Lifepatch


             29  Pierre Bourdieu, “Distinction & the Aristocracy of Culture”, dalam Cultural Theory and Popular Culture,
             ed. John Storey (Athens: The University of Georgia Press, 1998), hlm. 433.
             Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme
   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150